Bismillahirrahmanirrahim
Tanggal 20 November siang kami berangkat ke Singapore dengan sejuta harapan tentang apapun yang dapat diketahui dari hilangnya pendengaran Falisha secara tiba – tiba. Naik Valuair jam 14.35, kami tiba di Changi pukul 17.15 waktu setempat. Untunglah ini bukan trip pertama kalinya buat Falisha karena kami pernah ke Singapore sewaktu ayahnya masih diperbantukan di Singapore pertengahan Agustus lalu. Kami makan malam di Changi dan langsung menuju apartemen. Seseorang dari representative MedEl menghubungi kami untuk menawarkan bantuan yang tentu saja kami terima dengan senang hati. Arlene yang baik hati menawarkan mengantarkan ke lokasi rumah sakit besok pagi karena area rumah sakit yang amat besar mungkin akan menyulitkan kami.
Alhamdulillah pagi-paginya Falisha bangun dengan mudah dan bisa siap tepat waktu. Saat Arlene datang menjemput, kami sudah siap berangkat dan pergilah kami naik taksi ke lokasi rumah sakit. Kami diantar Arlene ke ENT Clinic, Kent Ridge Wing, National University Hospital. Sesampainya disana kami langsung mendaftar dengan berbekal paspor Falisha dan langsung ditunjukkan ke ruangan dokter Lynne Lim. Ternyata ENT Clinic itu juga adalah pusat habilitasi pendengaran dan bicara anak atau mereka menamainya Children Hearing Intervention & Language Development (CHILD) dimana dokter Lynne Lim adalah direkturnya. Kami semakin percaya bahwa pasti kami dapatkan titik terang disini.
Saat kami dipanggil masuk, dokter Lynne Lim menyambut kami dengan sangat ramah dan akrab. Beliau langsung ingat dengan kasus Falisha dan berusaha menerangkan arah pemeriksaannya untuk Falisha. Setelah mendapatkan seluruh cerita lengkap kami dan data – data awal yang dibutuhkannya, dokter Lynne menyatakan bahwa kecurigaannya adalah bahwa kehilangan pendengaran Falisha disebabkan oleh meningitis. Untuk itu beliau ingin memastikan dengan melakukan tympanometri ulang dan Playing Audiometry Test (PAT). Kami diminta mengikuti audiologist-nya Jenny Yin untuk melaksanakan tes tersebut. Hasil tympanometri mengkonfirmasi tidak adanya cairan di telinga tengah, walaupun grafik yang dihasilkan agak flat, Jenny mengatakan itu disebabkan oleh kecilnya ukuran gendang telinga Falisha (sehingga simpangan pergerakannya tidak seekstrem orang dewasa) dan juga karena kemungkinan adanya infeksi sebelumnya. Pada PAT, Falisha diminta mendengarkan bunyi-bunyian tunggal melalui earphone dimana bunyi – bunyian tersebut diketahui desibelnya dari alat yang dioperasikan oleh Audrey, audiologist lainnya. Falisha cukup kooperatif dalam PAT-nya, begitu juga saat PAT dilakukan pada telinga kanan dengan menggunakan hearing aid. Karena padatnya jadwal hari itu, maka telinga kiri Falisha belum dilakukan PAT dengan hearing aid, namun dijadwalkan akan dilakukan setelah ada jadwal yang kosong. Kami lalu masuk kembali ke ruangan dokter Lynne yang mengkonfirmasi bahwa memang Falisha mengalami sudden hearing loss tingkat profound akibat nerve di kedua telinganya atau disebut bilateral sensorineural hearing loss dimana telinga kirinya sedikit lebih parah dari telinga kanannya. Untuk memastikan apakah kondisi ini permanen atau temporer, dokter Jenny menyarankan dilakukan MRI telinga dalam (inner ear) untuk memastikan apakah kondisi cochleanya sudah memburuk dan apakah ada pengerasan massa (ossification) atau pengerutan. Hasil MRI ini akan menentukan treatment selanjutnya.
Kebijakan NUH adalah setiap pasien anak yang akan menjalani MRI harus dirawatinapkan. Maka siang itu kami langsung mendaftar untuk rawat inap dan mendapat kamar dengan 4 kamar tidur (sharing dengan 3 pasien anak lainnya) di Kent Ridge Wing, Ward 48 bed 13. Untunglah Falisha tidak terlalu rewel menghadapi kondisi tiba – tiba rawat inap tersebut, dan untungnya NUH dilengkapi dengan Play ground yang cukup lengkap sehingga Falisha tidak merasa bosan. Sayangnya hanya 1 orang tua yang diperbolehkan menginap sehingga ayahnya terpaksa kembali ke apartemen. Untunglah kami masih bisa berkomunikasi via hp. Falisha diharuskan puasa sejak pukul 5 pagi untuk menghindari keluarnya makanan jika muntah saat persiapan MRI. Esok paginya Falisha bangun dengan ceria dan lupa kalau dia sedang berpuasa. Namun saat harus dipasang jarum infus, kebijakan rumah sakit tidak membolehkan anak dipasangi jarum infus di kamar dan ditemani orangtuanya, sehingga ketika dalam kondisi terasing lalu dipasangi jarum infus, Falisha amat tertekan dan kelihatan trauma. Namun tidak ada yang bisa kami lakukan karena memang begitulah prosedurnya. MRI yang dijadwalkan pukul 10.45 pun ternyata tidak dapat dilakukan tepat waktu, mungkin karena banyaknya pasien gawat yang perlu di MRI. Saat di Indonesia, melakukan MRI amat sangat simple dimana Falisha diminta datang satu jam sebelum jadwal MRI, lalu diberi obat tidur Cloralhydrate puyer yang dicampur sirup dengan dosis 80 mg/kg berat badan, lalu setelah tidur langsung dilakukan MRI. Setelah MRI selesai, Falisha yang masih tidur pun diperbolehkan pulang dan diberi pesan harus dibangunkan jika setelah 2 jam belum juga bangun. Sementara di NUH, Falisha harus mengenakan piyama rumah sakit, harus puasa, lalu dibawa ke ruang MRI dengan tempat tidur dorong dimana telah disediakan tabung oksigen dan alat resusitasi. Selain itu jari Falisha pun dipasangi alat monitor kerja jantung untuk mengetahui kondisinya sejak diberi obat tidur sampai selesai MRI. Dosis cloralhydratenya pun hanya 35 mg/kg berat badan dan berbentuk cairan bening yang dimasukkan via pipet ke mulut Falisha. Namun obat tersebut tidak berhasil menidurkan Falisha karena hanya bertahan 30 menit sehingga saat baru dipersiapkan masuk ke alat MRI, Falisha sudah bangun dan meneriakkan namaku. Akhirnya dokter jaga bangsal Falisha datang dan menyuntiknya dengan obat tidur via jarum infus dimana Falisha langsung jatuh tidur setelahnya. Untunglah obat tidur ini bertahan sehingga dapat dilakukan MRI dengan lancar pada pukul 13.30 waktu setempat. Begitu MRI selesai 1 jam kemudian, Falisha langsung terbangun dan diantar kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar, dokter jaga bangsal langsung memeriksa kondisi Falisha dari mulai temperaturnya, tensinya, nafasnya sampai nafsu makannya. Setelah diobservasi selama 2 jam, akhirnya Falisha diperbolehkan pulang.
Ketika meninggalkan rumah sakit, kami sudah diberi perjanjian dengan dokter Lynne Lim untuk sore esok harinya, juga dengan audiologist untuk melakukan OAE dan PAT untuk telinga kiri Falisha dengan hearing aid. Kami pun pulang dan beristirahat di apartemen. Keesokan harinya kami meninggalkan apartemen pagi hari untuk berjalan – jalan di Orchard Road, lalu makan siang dan melihat – lihat mainan di Tangs Plaza sambil menunggu ayah Falisha sholat jumat di mesjid Al Falah Orchard Road. Setelah itu kami langsung menuju rumah sakit dan menemui dokter Lynne Lim sambil harap – harap cemas menunggu hasil analisa MRI yang akan disampaikan beliau. Saat kami masuk ke ruangan, dokter Lynne langsung menganalisa hasil MRI Falisha di komputernya dan mengatakan bahwa semuanya terlihat normal, artinya tidak terlihat adanya ossification ataupun pengerutan cochlea. Satu – satunya yang memang tidak dapat dideteksi adalah kerusakan yang terjadi di sillia (rambut halus) yang terdapat di cochlea yang diperkirakan rusak sehingga Falisha tidak dapat mendengar. Dokter Lynne Lim menyatakan bahwa Falisha perlu diobservasi selama 4 – 6 minggu dan kemudian dilakukan kembali PAT untuk melihat ada tidaknya improvement pada pendengarannya. Jika ada improvement maka diobservasi lagi setiap bulan sampai bulan ke 4 terhitung sejak Falisha kehilangan pendengarannya. Jika sampai bulan ke 4 terdapat improvement yang konsisten maka dapat dipastikan Falisha dapat sembuh dengan sendirinya dengan dibantu terapi mendengar yang intensif. Namun jika pada bulan kedua kemampuan pendengarannya tidak menunjukkan improvement atau malah menurun, maka dapat dipastikan kerusakannya permanent dan Falisha akan menjadi kandidat penerima Cochlear Implant. Selama masa menunggu, tidak ada obat yang dapat diberikan atau tindakan medis yang dapat dilakukan. Yang bisa dilakukan hanya melakukan stimulasi terhadap pendengarannya dengan AVT (Auditory Verbal Therapy), terus memberikan gizi yang baik, memperlakukan Falisha senormal mungkin dan berdoa. Kami pun lega karena setidaknya kondisi Falisha tidak terlalu buruk dan ada harapan yang besar bahwa masih terdapatnya kemungkinan Falisha sembuh dan dapat mendengar kembali secara normal dan alamiah. Setelah keluar dari ruangan dokter Lynne, kami melakukan tes OAE yang hasilnya semakin mengkonfirmasi kondisi hearing loss Falisha pada tingkat profound yaitu tidak dapat mendengar sampai lebih dari 100 dB. Setelah itu Falisha menjalani PAT untuk telinga kirinya dengan menggunakan hearing aid. Terbukti hearing aid Falisha mampu membantu Falisha mendengar sampai ke 60 dB namun belum masuk ke area percakapan manusia normal yaitu 20-30 dB. Pada sesi PAT itu juga kami diberi pengarahan tentang kinerja hearing aid Falisha dan bagaimana mengoptimalkannya serta banyak informasi tentang Cochlear Implant sebagai persiapan kami jika kami terpaksa mengambil langkah tersebut. Kami lalu memastikan perjanjian dengan audiologist untuk melakukan PAT kembali pada 3 dan 4 Januari 2008 untuk memonitor kondisi Falisha setelah masa observasi 6 minggu, lalu kami pun pulang ke apartemen dengan hati yang lebih lega dan penuh harapan.
Setelah itu kami memutuskan untuk langsung pulang ke Indonesia agar Falisha dapat segera beristirahat dan kembali ke lingkungannya setelah menjalani serangkaian tes yang melelahkan. Kini hari – hari kami dipenuhi dengan sesi AVT baik dengan terapis maupun kulakukan sendiri, doa yang tiada putus dan kasih sayang sebanyak mungkin agar Falisha selalu bahagia dan senang hatinya. Harap cemas tetap ada, menunggu keputusan akhir itu tiba di bulan Januari. Usaha untuk mendapatkan dana bagi kemungkinan prosedur Cochlear Implant Falisha juga terus kami lakukan, semoga semuanya berjalan lancar dan apapun keputusannya adalah keputusan terbaik untuk Falisha kami tercinta. Amin.