Archive for March, 2006

Kehidupanku selama di ITB

Friday, March 17th, 2006

Dulu waktu ayahku cerita dia sekolah di Arsitektur ITB, aku langsung terkesan dan langsung pengen sekolah disana setelah diajak naik kuda lewat ITB sama ayahku. Terus aku sadar aku ternyata sama sekali gak bisa nggambar jadi minimal Arsiteknya gugur. Tapi harapanku untuk sekolah disana rupanya tetap tersimpan dalam hati walaupun udah sekolah pindah2 dari mulai di TK & SD KBH Balikpapan, ke SDN Ciujung 4 Bandung, trus SDN Pesanggarahan 03 Pagi Bintaro jaksel, sampai akhirnya di SMPN 11 dan SMAN 6 Jakarta. Pas tahun terakhirku di SMAN 6 aku punya 3 sobat (the best in the world) Nining, Dino, dan Ivan. Mereka bertiga punya cita - cita yang berbeda, Nining akhirnya masuk Teknik Gas & Petrokimia UI dan Dino akhirnya masuk Teknik Sipil ITB sementara Ivan berbahagia dengan dunianya di Perbanas (sorry van, gue kayaknya gak pernah ngerti lu ambil jurusan apa). Kita pergi UMPTN sama2 dan nongkrong sama2 sepulang UMPTN padahal aku dan Nining ambil IPA dan Dino n Ivan ambil IPC. Akhirnya aku terdampar di Teknik Kimia ITB gara2 dapat inspirasi dari tungku pembuatan semen di buku pelajaran kimia anorganik waktu SMA dan dapet banyak masukan dari almarhum bokapnya Yanna, satu lagi my best friend (where are you Yanna?). Tahun pertama di ITB bukannya diisi sama semangat belajar malah sibuk pacaran sama Dino (lho??) dan latihan marching band n karate. Walaupun akhirnya terbukti acara pacaranku sama Dino gak lebih dari 1 tahun 10 hari (he..he..he..bener gak ya?) dan karateku juga cuma sampai tahun pertama itu aja, tapi kalo marching band tetep dong soalnya Marching Band Waditra Ganesha adalah komunitas terindah dalam hidupku.

Untungnya di MBWG banyak sekali seniorku Teknik Kimia jadi dapet banyak  bimbingan dari mereka supaya kuliah gue lebih terarah, thanx berat Robert, Nadjib, Widi and Mas Anto. Tahun kedua setelah ospek jadi lebih serius ke kuliah karena mata kuliahnya juga mulai susah2. Kondisi ekonomi keluargaku gak bagus jadi aku terpaksa pindah ke rumah Bibiku di Padasuka di akhir tahun kedua. Kehidupan kuliahku sempet terganggu juga sama acara pacaranku sama Micko yang juga gak bertahan lama, cuma setahun-an dari ospek ke ospek lagi. Dan gak tau kenapa sejak putus dari Micko gue tergerak untuk pake jilbab dan gue masih sangat comfort dengan keputusanku itu sampai sekarang.

Indeks prestasiku gak pernah nyampe 3.0 karena emang lebih serius ber MBWG daripada kuliah, selain juga hampir setahun gak punya pacar bikin sebel, padahal di jurusanku tadinya kita bersahabat berenam, Aku, Micko, Dian, Ivan (lain dari ivan yang SMA), Anti dan Leo tapi akhirnya kita jalan sendiri2 karena aku dan micko gagal bertahan pacaran, Dian n Ivan juga sempet pacaran tapi juga gak berlanjut. So di akhir2 tahun kuliahku di ITB akhirnya aku termotivasi sama partner penelitianku tercinta Umi Kulsum, you are the greatest !. Waktu pertama kali aku dipasangin sama dia aku berusaha untuk optimis karena aku belum pernah deket sama dia sebelumnya, aku langsung teriak "Umi kamu partnerku !" dan Umi cerita waktu itu dia berpikir dalam hatinya "Siapa loe ?" which is supposed to be crossed my mind too..he…he..he..! Tapi bener2 kalo gak ada Umi mungkin gue gak pernah lulus deh beneran.

Terus terang teknik kimia itu memang gak gampang tapi sebenernya gak terlalu susah juga dan yang paling penting gak perlu bakat sama sekali. Waktu aku kuliah disini rasanya gak pernah kebayang aku harus menghadapi hal yang sama dalam kerjaan seumur hidupku karena jelas aku gak akan pernah jadi Chemical Engineer yang istimewa karena nilaiku selalu pas-pasan.

Bahkan waktu ujian komprehensif aku stress setengah mati dan untungnya Anti mengusulkan system yang paling efektif dimana kita akhirnya nginep di rumah Anti seminggu sebelum kompre, bagi materi kompre jadi 3 bagian, satu buat aku, satu buat Anti dan satu buat Ririen. Setelah kita menguasai satu topik kita harus presentasi buat semuanya jadi kita gak belajar terlalu banyak materi. Aku sama sekali gak bilang sama ortuku waktu aku ikut kompre, cuma bilang sama adikku yang kebetulan baru aja masuk jurusan Geofisika dan Meteorologi di ITB juga waktu itu. Waktu pengumuman kompre rasanya mau pingsan, stress banget dan akhirnya kaget banget waktu diumumin aku lulus. Sayangnya waktu itu Ririen gagal ikut kompre karena masih kesandung pengendalian dan Leo bahkan gagal kompre dan harus ngulang lagi. Jadi yang lulus waktu itu aku, Anti dan Micko. Ivan belum bisa ikut kompre dan Dian udah pindah belajar kedokteran di Inggris.

Pas akhirnya kerja di Rekayasa Industri, gak nyangka bisa bertahan karena kerjaanku sehari2 tuh teknik kimia abis dan gak jarang aku tampak bodoh karena terus terang aku gak terlalu gape di dasar2 ilmu teknik kimia, aku suka cari praktisnya aja. Salah satu yang menginspirasiku untuk menekuni bidang ini adalah pengalamanku waktu Kerja Praktek di Pupuk Sriwijaya IB yang dibangun sama Rekayasa Industri. Tapi pengalamanku di ITB lah yang membawaku seperti sekarang dan membekaliku dengan banyak pelajaran hidup. Akhirnya aku beranjak dewasa dan bisa merancang prinsip hidupku sendiri. Bahkan suamiku tercinta juga jebolan kampus ini dan kita punya pengalaman sendiri2 yang akhirnya saling memperkaya satu sama lain.

Memang banyak orang bilang kehidupan di ITB itu klise dan arogan, tapi yang aku jadikan pelajaran bukan itu, bukan bahwa mahasiswa ITB tuh pasti pinter2 tapi suka demo. Tapi yang aku petik dari kehidupanku di ITB adalah bahwa bhinneka tunggal ika itu memang menghasilkan banyak pelajaran, bahwa rambut bisa sama hitam tapi isi kepala jauh berbeda. Begitu banyak kehidupan yang pernah kusentuh hanya karena aku berteman dengan mereka dan begitu banyak kesalahan yang aku lakukan yang pernah menyakiti hati mereka namun begitu banyak maaf yang aku terima karenanya.

Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10 Bandung adalah satu dari sekian banyak guru dalam kehidupanku yang tidak akan pernah kulupakan selama hidupku.

IN HARMONIA PROGESSIO !!!!!!!!

Karirku di Rekayasa Industri

Thursday, March 16th, 2006

Gak kerasa tau2 udah 8 tahun1/2 kerja di Rekayasa Industri, banyak yang sudah terjadi dan banyak juga yang tidak terjadi. Dimulai dari anak perempuan polos berjilbab yang mimpi jadi Engineer handal yang bisa menciptakan perubahan di dunia Per-Teknik Kimia-an walaupun cuma berbekal IP pas2an banget. Dapet kesempatan wawancara akibat diajak Anto yang dapat hadiah rancangan pabrik (sampai kapanpun gue bakal selalu inget nto!). Diwawancara sama almarhum Pak Chandra Widodo yang baik dan gantengnya minta ampun. Didampingi sama Pak Marcus yang jadi sumber ilmu dan pengetahuanku mungkin sampai kapanpun juga.

1 Oktober 1997 itu hari pertama aku kerja jadi Process Technology Engineer di Divisi Teknologi PT. Rekayasa Industri, sebuah Engineering, Procurement and Construction Company BUMN. Hari - hari pertama rasanya ngambang banget cuma disuruh baca2 Work instruction dan gak dapet target apa2. Minggu kedua alm. Pak Chandra melihat kegelisahanku dan dia kasih aku kerjaan bikin summary tehnologi pabrik semen, yang sampai sekarang pun gak pernah kuselesaikan (maafkan aku ya pak?). Lama - lama terlibat bikin Feasibility Study beberapa prospek proyek dan sampe melanglangbuana ke Tanjung Jabung, Jambi segala. Mulai kerasan kerja disini dan mulai merasa ini memang duniaku banget. Aku bukan orang hebat dan berprestasi disini tapi at least aku menikmati sekali pekerjaanku.

Tau2 alm. Pak Chandra merasa aku lebih berminat ke pengembangan software dan aku diajukan untuk masuk tim Plant Design System yang akhirnya jadi tiket masa depanku baik karir maupun kehidupan rumah tanggaku. Disitu aku bener2 kenal apa dan bagaiman membangun proyek itu untuk pertama kalinya. Dan disitu juga aku kenal suamiku yang sekarang untuk pertama kalinya. Alm. Pak Chandra memang benar, aku suka sekali dengan aplikasi PDS dan aku menekuni sekali software ini walaupun pada akhirnya tidak terlalu banyak diaplikasikan di Rekayasa Industri.

Sampai akhirnya aku dipertimbangkan jadi pegawai tetap karena kemampuanku mengoperasikan PDS ini dan terjun ke Departemen Proses jadi Process Engineer beneran. Diwawancara sama Alm. pak Kuki yang baik banget itu, pak Memed sama mas Dundi dan diwanti - wanti harus bener2 kerja yang baik di Rekayasa Industri. Dari mulai dicemplungin bang Donal jadi lead Process PLTP Lahendong I sampai terakhir bantu pak Gito jadi lead Process dan supervisi aplikasi PDS di PPGS Musi Barat Paket I. Semuanya menyenangkan walaupun yang namanya proyek ya pasti ada stress dan hebohnya. Pernah dikasih kesempatan ikut basic engineering Proyek Pupuk Iskandar Muda II ke Jepang bareng Toyo Engineering Corporation selama 1 bulan. Sempet juga dikasih kepercayaan jadi Engineering Manager di Proyek Recommissioning PLTP Dieng I sama pak Alex yang sampai sekarang jadi bekal yang gak terbayar harganya, bener2 suatu pengalaman yang hebat walaupun prestasiku disitu gak ada yang bisa dibanggakan. Malah kata suamiku yang juga ikut proyek itu aku baru bisa jadi kantor pos doang, he…he..he.. Tapi suamiku bener2 obyektif kalo ngasih penilaian dan dia orang yang sangat broadthought, dari segala segi dan sudut pandang, aku bangga jadi istrinya. Sampai akhirnya aku nongkrong di Denver ini dikasih kesempatan sama pak Isnanto untuk jadi project engineer dari proyek PLTP Kamojang 4 ini sama Stone & Webster Inc. yang aku yakini akan jadi salah satu pengalaman hebatku lainnya. Aku bener2 cinta sama dunia Geothermal Power Plant ini.

Selain ngurusin kerjaan aku juga dapet banyak sekali pengalaman di kehidupan bermasyarakat di Rekayasa Industri, dari mulai dapet kepercayaan jadi sie acara ulang tahun Rekayasa Industri, jadi Ketua Divisi Muslimah Majelis Taklim Ulul Albab yang bener2 merubah aku jadi orang yang jauh lebih baik sampai jadi Ketua Tim Remunerasi tahun 2005. Bayangkan aku pernah ngurusin Srimulat jadi pengisi acara ultah Rekayasa Industri sampe Peggy Melati Sukma jadi MC-nya segala, terus sampai ketemu Neno Warisman, Aa Gym dan Ustadzah Fathiya tercintaku gara2 ngurus pengajian, buka kios Red Crispy di kantin demi cari duit infaq sampe bikin formula kenaikan gaji pegawai di tahun 2005 sampai 100%. Bener - bener dahsyat apa yang aku kerjakan disini dan aku bener2 bangga bisa jadi bagian itu semua.

Ke depannya aku masih berharap bisa memberikan yang terbaik yang bisa aku berikan ke dunia Geothermal ini tapi juga masih bisa memberikan yang paling baik buat suami dan anakku. Semoga apa yang sudah kucapai ini bisa memberikan nilai tambah buat semuanya sehingga bisa melancarkan langkahku ke Surga-Mu ya Allah SWT.

Geothermal Power Plant

Thursday, March 16th, 2006

Geothermal Power Plants

There are three geothermal power plant technologies being used to convert hydrothermal fluids to electricity. The conversion technologies are dry steam, flash, and binary cycle. The type of conversion used depends on the state of the fluid (whether steam or water) and its temperature. Dry steam power plants systems were the first type of geothermal power generation plants built. They use the steam from the geothermal reservoir as it comes from wells, and route it directly through turbine/generator units to produce electricity. Flash steam plants are the most common type of geothermal power generation plants in operation today. They use water at temperatures greater than 360°F (182°C) that is pumped under high pressure to the generation equipment at the surface. Binary cycle geothermal power generation plants differ from Dry Steam and Flash Steam systems in that the water or steam from the geothermal reservoir never comes in contact with the turbine/generator units.

U.S. Geothermal Power Plants

Power plant photographs

Dry Steam Power Plants

Steam plants use hydrothermal fluids that are primarily steam. The steam goes directly to a turbine, which drives a generator that produces electricity. The steam eliminates the need to burn fossil fuels to run the turbine. (Also eliminating the need to transport and store fuels!) This is the oldest type of geothermal power plant. It was first used at Lardarello in Italy in 1904, and is still very effective. Steam technology is used today at The Geysers in northern California, the world’s largest single source of geothermal power. These plants emit only excess steam and very minor amounts of gases.

Flash Steam Power Plants

Hydrothermal fluids above 360°F (182°C) can be used in flash plants to make electricity. Fluid is sprayed into a tank held at a much lower pressure than the fluid, causing some of the fluid to rapidly vaporize, or "flash." The vapor then drives a turbine, which drives a generator. If any liquid remains in the tank, it can be flashed again in a second tank to extract even more energy.

Binary-Cycle Power Plants

Most geothermal areas contain moderate-temperature water (below 400°F). Energy is extracted from these fluids in binary-cycle power plants. Hot geothermal fluid and a secondary (hence, "binary") fluid with a much lower boiling point than water pass through a heat exchanger. Heat from the geothermal fluid causes the secondary fluid to flash to vapor, which then drives the turbines. Because this is a closed-loop system, virtually nothing is emitted to the atmosphere. Moderate-temperature water is by far the more common geothermal resource, and most geothermal power plants in the future will be binary-cycle plants.

The Future of Geothermal Electricity

Steam and hot water reservoirs are just a small part of the geothermal resource. The Earth’s magma and hot dry rock will provide cheap, clean, and almost unlimited energy as soon as we develop the technology to use them. In the meantime, because they’re so abundant, moderate-temperature sites running binary-cycle power plants will be the most common electricity producers.

Before geothermal electricity can be considered a key element of the U.S. energy infrastructure, it must become cost-competitive with traditional forms of energy. The U.S. Department of Energy is working with the geothermal industry to achieve $0.03 to $0.05 per kilowatt-hour. We believe the result will be about 15,000 megawatts of new capacity within the next decade.

DOE Support

The U.S. Department of Energy recognizes the strategic value of geothermal electricity, and supports its development in several ways through its Geothermal Technology Development Program. First, it works with Congress to ensure support for geothermal energy and renewables in general. Second, it sponsors millions of dollars in research and development at national laboratories and universities. Investigators are working on issues in exploration, geochemistry, drilling, resource usage, and equipment operation. Third, through its GeoPowering the West initiative, it works with state and local officials and other stakeholders to identify and overcome regulatory and institutional barriers to geothermal power development.

Supernanny

Thursday, March 16th, 2006

Supernanny

If for nothing else, I love that the Supernanny televsision show helps to show that there are almost always alternatives for specific parenting problems when what you are doing isn’t working.

Are you too permissive? Or too authoritarian and strict? Is your house a zoo because you have no control over your kids? Do your kids want to stay up all night? The Supernanny can help you get things under control.

However, if you don’t want your family and all of your problems on TV for everyone to see, the Supernanny book is a good alternative to being on the show.

In addition to outlining her basic techniques, the first few chapters offer some great general tips, such as:

  • have realistic expectations about what your kids can understand
  • let little things go and just ‘focus on the big stuff’
  • instead of offering a lot of choices, simply ‘offer a toddler a choice between two acceptable alternatives’
  • understand that rules and boundaries are important because the child who gets everything he wants whenever he wants is unlikely to be happy

The Supernanny also teaches you how to talk to your child and how to use avoidance strategies, the involvement technique, and the naughty step technique (similar to time-out) to discipline your child.

The Troubleshooting chapters will be the most useful for most parents. Each section, whether dealing with dressing, toilet training, eating, social skills, or bedtime, has plenty of examples and a discussion of what to do and ends with her ‘top ten rules’ and how they apply to each topic.

These ‘rules’ are the key to the book and include a lot of basic discipline techniques that are discussed in most other parenting books. For example, she talks about being consistent, having a routine, using warnings, and restraint (don’t lose control and shout at your kids).

Unlike many other books, the Supernanny writes in an easy to read style and book is well formated, with lots of pictures, to help parents get through it quickly.

There were some things about the book that I didn’t like though. In the chapter describing a baby’s first six months, she says that ’sometimes if you give a breastfed baby a bottle at 11 P.M., she can hold out until 4 A.M. before she needs another.’ Now why would you want or recommend that a breastfeeding baby take a bottle?

She also says that ‘you can’t use discipline on a ten-month-old baby, but you can and should warn her not to do something.’ The problem with that statement is it is actually giving a classic example of discipline. It is only when you equate discipline with punishment that you can’t ‘discipline’ a baby.

Then there are some things that are just a little ‘out there.’ Can you really tell that a baby is teething because they have ’smellier diapers’ with an ‘unmistakable’ smell? And do teething babies really need a ‘mild sedative’?

Nitpicking over these small things doesn’t take away from the fact that most parents will find Supernanny a great read and offers ‘commonsense ways of dealing with the type of ordinary challenges and problems that most parents of children under five face most days of the week.’

Rational Use of Drugs (RUD)

Thursday, March 16th, 2006

A NEW THREAT TO YOUR HEALTH
ANTIBIOTIC RESISTANCE

by Dr. Purnamawati SpAK MMPed


Antibiotik merupakan salah satu obat terpenting yang pernah diciptakan manusia. Mengapa? Antibiotik membantu kita berperang melawan infeksi kuman/ bakteri, oleh karena itu, antibiotik bisa menjadi penyelamat jiwa. Namun dengan berjalannya waktu, keampuhan antibiotik semakin memudar. Apa yang telah terjadi dengan antibiotik? Ternyata, penggunaan antibiotik yang membabi buta menyebabkan antibiotik kehilangan pamornya sebagai obat istimewa”.Saat ini,diseluruh belahan dunia, sebagian besar kuman penyebab infeksi serius sudah resisten (kebal) terhadap antibiotik.Kuman yang resisten ini disebut sebagai “superbugs”.Besarnya permasalahan yang ditimbulkan oleh “superbugs” ini merupakan keprihatinan seluruh dunia.

Pada tahum 1995, berdasarkan penelitian bakteri resisten antibiotik, The American Medical Association (AMA mengeluarkan pernyataan yang keras. “The global increase in resistance to antimicrobial drugs, including the emergence of bacterial strains that are resistant to all available antibacterial agents, has created a public health problem of potentially crisis proportions”. Bakteri resisten antibiotik memang telah menimbulkan masalah kesehatan yang sangat serius di komunitas. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional bukan hanya “merugikan” individu yang bersangkutan (pasien yang memperoleh terapi antibiotik), melainkan juga merugikan lingkungan sekitarnya. Bila anggota masyarakat di suatu lingkungan mengkonsumsi antibiotik secara berlebihan (tidak rasional) maka lingkungan tersebut potensial terinfeksi oleh kuman yang sudah resisten antibiotik.

Tidak sedikit konsumen kesehatan maupun dokter yang masih menganggap bahwa antibiotik itu “obat dewa” alias “magic savers”. Konsep keliru ini segeralah tanggalkan. Hampir semua kondisi kesehatan diterapi dengan antibiotik termasuk infeksi virus seperti flu. Padahal, antibiotik “impoten” terhadap virus. Celakanya, justru anak-anak sangat sering memperoleh antibiotik. Hal ini sangat memprihatinkan, karena cepat atau lambat, kita akan “terpental” kembali ke era kegelapan, era pra antibiotik.

SLIDE 2. HISTORICAL PERSPECTIVES
Antibiotik an pertamakali diketemukan secara kebetulan di awal abad 20. Sejak itu, telah ditemukan berbagai antibiotik baru yang lebih kuat, lebih canggih. Namun demikian, sejak tahun 1998, praktis tidak ada lagi penemuan antibiotik baru. Padahal saat ini, para dokter sudah seperti berkejaran di “treadmill” (berlari - tetapi pada dasarnya jalan di tempat), terus mencari dan mempergunakan antibiotik yang lebih baru dan lebih kuat. Padahal, kalau perilaku penggunaan antibiotik tidak berubah menjadi rasional, dalam waktu singkat antibiotik baru tersebut (kalaupun ditemukan) juga menjadi “impoten”.

SLIDE 3. BACTERIA AND VIRUS - organisme yang sangat kecil
(mikro-organisme)
Bakteri. Banyak sekali bakteri di dalam tubuh kita. Bahkan, salah satu kandungan di ASI adalah bakteri. Alam semesta pun penuh dengan bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas bakteri - tidak “jahat”, bahkan menguntungkan. Kita dan tubuh kita justru membutuhkan bakteri ini, mereka membantu kesehatan kita. Berdasarkan sifat fisiknya di laboratorium, secara garis besar bakteri dapat digolongkan sebagai bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif.
Virus. Virus jauh lebih kecil daripada bakteri. Mereka berkembang biak dengan mempergunakan sel tubuh kita. Oleh karena itu, diluar tubuh kita, virus tidak berkembang biak. Virus tidak dapat dibunuh oleh obat, antibiotik samasekali tidak bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh kita.

SLIDE 4. LIVING WITH BACTERIA
Di dalam tubuh kita ditemukan banyak bakteri terutama di saluran cerna (mulai dari mulut sampai usus dan anus). Usus kita dipenuhi oleh kurang lebih 500 jenis bakteri dan berat bakteri di usus orang dewasa normal bisa mencapai 1.5 kg. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri memegang peran penting dalam sistem pencernaan kita. Apa gunanya usus kita dipenuhi bakteri?

1. Bakteri mengubah apa yang kita makan menjadi nutrisi yang dibutuhkan tubuh
2. Memproduksi vitamin B & vitamin K,
3. Memperbaiki sel dinding usus yang tua dan sudah rusak
4. Merangsang gerak usus (peristaltis) sehingga kitatidak mudah mengalami konstipasi
5. Menghambat berkembang biaknya bakteri jahat dan secara tidak langsung, mencegah tubuh kita agar tidak terinfeksi bakteri jahat.

Nah, antibiotik yang kita makan, otomatis akan membunuh bakteri “baik” tersebut.

SLIDE 5. WHAT ARE ANTIBIOTICS?
Antibiotics are compounds isolated from one living organism that kill or inhibit the growth of other organisms. Antibiotik dibuat dari Molds/jamur;Bakteri, atau sintetik/semisintetik yang akan membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri yang menyerang tubuh. Antibiotik tidak dapat membasmi semua infeksi. Infeksi yang disebabkan virus (pilek-flu, sebagian besar radang tenggorokan, kebanyakan batuk) tidak dapat di”basmi” oleh antibiotik.

SLIDE 6. HOW DO I KNOW WHEN I NEED ANTIBIOTICS
When they can and can’t help?

Konsumen harus mengetahui kapan mereka memerlukan antibiotik dan kapan
mereka tidak perlu mengkonsumsi antibiotik. Kesadaran seperti ini akan sangat membantu dokter karena tidak jarang, justru pasien yang minta diberi antibiotik. Penelitian menunjukkan, paling tidak, ada tiga kondisi yang umumnya diterapi dengan antibiotik:

• Demam
• Radang tenggorokan/Sore throat
• Diare

Penggunaan antibiotik yang berlebihan, tidak akan menguntungkan, bahkan dapat merugikan/membahayakan. Manusia dikaruniai Tuhan anugrah berupa
antibiotik untuk membunuh infeksi bakteri, namun demikian, manusia jugalah
yang merusak karunia tersebut dengan pola penggunaan antibiotik yang tidak
bijaksana. Marilah kita jaga dan lindungi karunia ini. Antibiotics save us
– we have to save antibiotics.

SLIDE 7. THE TROUBLE WITH ANTIBIOTICS
Long-term damage to individual & community

F Pemberian antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan kuman2 yang tidak terbunuh mengalami perubahan diri (mutasi) menjadi kuman yang tidak mempan dilawan antibiotik. Kuman ini disebut “superbugs”. Selain itu,“superbugs” juga sering lolos dari serangan sistem imun tubuh karena perubahan diri tersebut menyebabkan sistem imun tidak dapat lagi mengenali si kuman. Superbugs memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat, pasien harus dirawat di rumah sakit karena antibiotiknya harus diberikan melalui selang infus. Antibiotik super kuat ini berisiko menimbulkan efek samping yang lebih berat. Selain itu, dalam waktu cepat, bakterinya juga menjadi kebal terhadap antibiotik yang superkuat tadi. F Dampak negatif kedua pemberian antibiotik yang berlebihan dan tidak bijaksana adalah terbunuhnya “kuman baik” yang ada di dalam tubuh kita. Tempat yang semula ditempati mereka menjadi vakum dan kekosongan ini diisi oleh kuman “jahat” atau oleh jamur. Kondisi ini disebut sebagai “superinfection”. Antibiotik adalah sumber alam, karunia Tuhan yang harus dipergunakan dengan bijaksana. Pemberian antibiotik yang berlebihan menyebabkan infeksi yang semula dapat dibasmi, kini justru semakin subur karena kumannya telah kebal.

SLIDE 8. WHY OVERUSE OF ANTIBIOTICS IS DANGEROUS?

Bakteri jahat akan menjadi resisten bila ANTIBIOTIK terlalu sering dipergunakan. Mengapa pemakaian antibiotik yang berlebihan berbahaya?
Karena, yang akan dirugikan bukan saja pasien/individu yang memperoleh antibiotik – tetapi juga lingkungan sekitarnya (komunitas). Oleh karena itu antibiotik adalah satu2nya obat komunitas, obat yang berdampak terhadap lingkungan (ANTIBIOTICS are SOCIETAL MEDICINE).
Dampak negatif individual.
Antibiotik tidak lagi dapat membantu anda saat anda mengkonsumsinya di kemudian hari.
Dampak negatif komunitas.
Kelompok bakteri yang resisten tersebut selanjutnya juga menginfeksi seluruh populasi tetapi TIDAK ADA ANTIBIOTIK yang MEMPAN – meskipun sebagian orangdi populasi tersebut baru pertamakali itu memakai antibiotik yang bersangkutan

SLIDE 9. CONSEQUENCES OF RESISTANCE
Dr. Richard Novick membuat pernyataan seperti di bawah ini:
Antibiotics are given for everything from headaches to ingrown toenails; they are swallowed, sucked, injected and smeared; they are painted on cuts, dumped into wounds; fed to chickens-pigs spread on the floors of the hospital wards
Memang itulah kenyataan yang terjadi sehari-hari. Kita terlalu BOROS dalam
penggunaan antibiotik yang bisa berdampak buruk sebagai berikut (CDC, Atlanta):

• Prolonged illnesses, increased risk of death
• Increased cost
• More toxic drugs
• Longer periods in which a person is contagious & able to spread the resistant bugs to the community

SLIDE 10. Antimicrobial Use and Antimicrobial Resistance in Europe

SLIDE 11. Principles of Appropriate Antimicrobial Use: The Common Cold - Key Message

SLIDE 12. Antibiotics for The Common Cold. Benefit on Day 5?

SLIDE 13. Appropriate Antimicrobial Use: Sinusitis - Key Message

Sinusitis umumnya terjadi akibat infeksi virus flu atau pilek. Oleh karena itu, umumnya tidak memerlukan antibiotik. Terapi antibiotik hanya perlu diberikan bila:

- Sinusitis berkepanjangan lebih dari 10 – 14 hari atau,
- Sinusitis semakin berat ( demam > 39.0 C, bengkak di muka sekitar hidung dan mata/facial swelling, rasa nyeri di daerah muka/facial pain)

SLIDE 14. Duration of Symptoms in 139 Rhinovirus Colds

SLIDE 15. Antibiotic Treatment of Sinusitis

SLIDE 16. Principles of Appropriate Antimicrobial Use: Bronchitis - Key Message

Bronkitis adalah ITIS atau radang di saluran napas. Penyebabnya macam-nacam. Penyebab tersering adalah alergi (Allergic rhinitis, asthma, environmental exposures), bisa juga karena sinusitis, reflux, reaksi obat, kelainan bawaan saluran napas, tersedak “benda asing”, pneumonia (virus, jamur). Mohon diingat – pneumonia belum tentu karena infeksi bakteria jadi belum tentu perlu antibiotik. Prinsip managemennya sama dengan batuk pada umumnya.

Anak-anak dengan batuk yang akut atau bronkitis, SELAMA TIDAK MENDERITA
PENYAKIT PARU-PARU KRONIS, UMUMNYA TIDAK MEMERLUKAN ANTIBIOTIK. Antibiotik HANYA diperlukan bila anak menderita infeksi bakteri seperti pertussis
(batuk rejan/batuk 100 hari) atau infeksi mycoplasma (memberikan gambaran
foto ronsen yang khas).

SLIDE 17. Appropriate Antimicrobial Use: Otitis Media - Key Message

Otitis media adalah itis di telinga (otic) tengah (media), radang telinga
tengah. Penyebabnya umumnya adalah Virus, pasca infeksi hidung atau radang
tenggorokan seperti cold/flu, atau masalah gigi. Serangan atau episode otitis media dapat digolongkan atas:
- Acute otitis media (AOM) atau radang telinga tengah akut
- Otitis media with effusion (OME) atau radang telinga tengah dengan cairan
Terapi awal OME tidak memerlukan Antibiotik

SLIDE 18. Appropriate Antimicrobial Use: Otitis Media - Key Message

Pada umumnya, sebagian besar atau mayoritas anak dengan serangan AOM akan
sembuh sendiri (self-limited).
• Pada AOM, terapi antibiotik (5 – 7 hari) dapat dipertimbangkan bila anak tidak tergolong berisiko tinggi mengalami kegagalan terapi antibiotik.
Risiko kegagalan antibiotik pada AOM sebagai berikut:
– Berusia < 24 bulan
– Sehari-hari, anak ditipkan di tempat penitipan anak (seperti kita ketahui, karena “kepadatan” suatu TPA, maka anak-anak yang berada di TPA, berisiko mengalami infeksi berulang terutama pilek dan batuk).
– Dalam 3 bulan terakhir telah mempergunakan antibiotik (disini kita lihat, bahwa penggunaan antibiotik yang sering justru akan mengurangi keberhasilan terapi antibiotik)
• Pasca terapi AOM, sudah dapat dipastikan bahwa cairan di ruang telinga tengah tidak akan langsung menghilang. Kondisi ini disebut sebagai OME yang menetap (persistent middle ear effusion) dan kondisi ini tidak berarti bahwa terapi antibiotik harus diulang.

SLIDE 19. Persistent Middle Ear Effusion (MEE) after Treatment of 1st Episode of AOM (Cairan di ruang telinga tengah yang menetap pasca pengobatan AOM)

SLIDE 20. Causes of Febrile Exudative Pharyngitis (Penyebab faringitis atau radang tenggorokan yang disertai dengan demam dan nanah – ditonsil/amandel)

SLIDE 21. Appropriate Antibiotic Use
Berjuta-juta resep ditulis yang mencantumkan antibiotik untuk infeksi virus. Penelitian menunjukkan bahwa alasan yang dikemukakan para dokter ada 3 seperti yang sudah dikemukakan di slide 2. yaitu:

• Diagnostic uncertainty
• Time pressure
• Patient demand

SLIDE 22. HOW CAN PEOPLE HELP?

• Jangan sedikit-sedikit meminta dokter untuk memberikan antibiotik.
Jangan mengkonsumsi antibiotik untuk infeksi virus seperti flu/pilek, batuk, atau radang tenggorokan. Kalau merasa tidak nyaman akibat infeksi virus tersebut, tanya doikter bagaimana cara meringankan gejala tetapi bukan dengan antibiotik

• DESINFEKTANT sebaiknya hanya dipergunakan di rumah sakit. Sehari-hari di rumah, kita tidak perlu mempergunakannya karena kuman di rumah umumnya adalah kuman baik. Di rumah – “Good water and soap are sufficient” Desinfektan mungkin hanya diperlukan bila di rumah ada orang sakit yang daya tahan tubuhnya memang rendah (pasca transplantasi, anak penyakit kronis yang memperoleh steroid, dan lain-lain).

SLIDE 23. APPROPRIATE TARGETED AGENT
Rule of thumb perihal pemakaian antibiotik yang lebih rasional:
1. Seandainya anak kita membutuhkan antibiotik, pilihlah antibiotik yang hanya bekerja terhadap bakteri yang dituju. Dalam hal ini, antibiotik yang narrow spectrum.
2. Untuk infeksi bakteri yang “ringan” (infeksi saluran napas atas atau infeksi telinga dan infeksi sinus) yang memang perlu antibiotik (seperti dikemukakan dislide sebelumnya), maka pilihlah yang bekerja terhadap bakteri Gram positif.
3. Untuk infeksi kuman yang berat, seperti infeksi di bawah daerah diafragma (infeksi ginjal/saluran kemih, apendisitis, tifus, dll) pilihlah antibiotik yang membunuh kuman Gram negatif.
4. Hindarkan pemakaian lebih dari satu antibiotik kecuali TBC atau infeksi berat di rumah sakit.
5. Hindarkan pemakaian salep antibiotik kecuali untuk infeksi mata.

SLIDE 24. Antimicrobial Resistance Among Hospitalized Patients
(Bakteri resisten antibiotik pada pasien rawat inap di rumah sakit)
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang diperoleh di rumah sakit dan penyebabnya adalah kuman/bakteri rumah sakit. Bakteri di rumah sakit umumnya sudah resisten terhadap berbagai antibiotik dan kalaupun masih ada antibiotik yang bisa membunuhnya, maka antibiotik tersebut adalah antibiotik yang sangat kuat. Sebagai contoh, anak kita dirawat karena dehidrasi berat akibat diare. Kebanyakan diare pada bayi disebabkan oleh virus. Tetapi saat dirawat, anak kita memperoleh infeksi tambahan yaitu infeksi nosokomial, yang memerlukan antibiotik super canggih. Pusat penyakit menular di Atlanta (CDC) Amerika Serikat menyatakan bahwa setiap tahunnya sampai dengan 2 juta pasien mengalami infeksi nosokomial saat dirawat di rumah sakit. Kondisi ini menyebabkan sejumlah 90,000 kematian.

SLIDE 25. Battle of the Bugs: Fighting antibiotic resistance
Sudah sejak beberapa dekade terakhir ini, dunia kedokteran “mencanangkan” PERANG TERHADAP BAKTERI RESISTEN ANTIBIOTIK. Caranya? (1) Kurangi pemakaian antibiotik, jangan mempergunakan antibiotik untuk infeksi virus. (2) Pergunakan antibiotik hanya bila memang benar-benar diperlukan dan mulailah dengan antibiotik yang “ringan” atau narrow spectrum. (4) Kampanye penggunaan antibiotik yang rasional harus semakin dikumandangkan, termasuk pengaturan pemakaian antibiotik di bidang agrikultur.
Mengapa kita harus “hemat” dalam penggunaan antibiotik?

• Increasing antibiotic resistance threatens success of antibiotic treatment for common infections

• Antibiotic overuse drives the spread of resistance

SLIDE 26. ANTIBIOTIC MISUSE. Our window of opportunity is closing

• Saat ini, bertambah satu lagi krisis yang dihadapi kehidupan dan manusianya. Penyakit-penyakit yang semula dapat disembuhkan (TBC, Gonorrhoea, typhoid/tifus) – saat ini sudah tidak lagi dapat “DITEMBUS” – akibat kondisi antibiotic resistance.
• Suatu kondisi yang sangat serius – yang diperparah oleh perilaku overuse of ANTIBIOTICS
• Oleh karena itu, masalah ANTIBIOTIC RESISTANCE bukan masalah dokter dan
ilmuwan saja, MELAINKAN – MERUPAKAN MASALAH KITA BERSAMA. Everybody needs
to help deal with this

SLIDE 27. Lessons Learned
Prescribers (docotrs) and patients are all part of the problem

Dokter dan pasien – SAMA-SAMA “BERSA;AH” perihal antibiotic resistance
ini.

SLIDE 28. FINAL MESSAGE.
BE SMART AND CRITICAL CONSUMERS

Drugs are much too serious a thing to be left to the medical profession and the pharmaceutical industry Kata-kata di atas ditulis oleh seorang pakar ahli farmakologi klinik (ahli obat) di Australia. Memang benar, obat dan praktek pemberian obat,
seyogyanya jangan sepenuhnya diserahkan ke tangan seorang dokter dan ahli farmasi. Sebagai konsumen kesehatan yang “bertanggung jawab”, kita harus berperan aktif “melindungi diri kita dan keluarga kita” dengan cara, menggali dan mencari pengetahuan kedokteran serta belajar memahami kondisi yang kita alami. Dengan berbekal pengetahuan dasar ilmu kesehatan, maka Insya Allah, kita akan menjadi konsumen kesehatan yang “smart and critical”.

My Homesick

Thursday, March 16th, 2006

Me_harry_snow Dear my Blog

Udah 3 minggu nih di Denver ngurusin basic engineeringnya Kamojang 4. Waktu mau berangkat kesini sih excited banget, gimana gitu kayaknya pertama kalinya ke Amerika. Walaupun pada saat itu pun sudah merasa bakal kangen sama malaikat kecilku tercinta karena biasa bobo sama2 setiap hari.

Waktu pertama kali sampe disini juga excited banget dengan segala pengalaman baru di negeri yang katanya paling superior di dunia ini. Tapi baru dua hari disini Lisha udah anget, terus tanpa konsultasi sama ayahnya langsung dibawa ke dokter sama neneknya. Padahal sudah sering sekali aku ngajarin si mbak kalo cuma panas dibawah 40 deg C gak usah ke dokter, nanti malah dikasih puyer dan antibiotik pula, buat apa coba ??? Dan sebelnya ya itu, kok ya gak tanya2 sama orangtuanya si anak, malem2 ayahnya pulang ke rumah tau2 anaknya gak ada di rumah katanya dibawa ke dokter. Aku langsung marah - marahin si mbak kok mau aja dimanipulasi neneknya, mau aja tanpa ngabarin orangtuanya kok anak bayi main dibawa ke dokter aja, gak ngerti sejarahnya. Pokoknya abis kumaki2 dan abis juga 700 dollar cuma buat maki - maki doang ! Untung dalam 3 hari dia sembuh, kayaknya cuma pileg aja karena ikut  nganter aku ke airport subuh - subuh.

Terus minggu kedua adalah minggu terberat yang aku rasakan, hampir setiap malam kerjanya ngeliatin foto lisha sambil nangis. Sampai akhirnya ayahnya mengusulkan beli web cam dan akhirnya bisa liat lisha lari - lari kesana kemari sambil bawa sapu lidi, duh lucu banget deh malaikat kecilku itu.

Sekarang udah minggu ketiga, udah beli macem2 buat lisha, sama sekali gak tergoda buat beli apapun buat diriku sendiri. Abis kalo barang2 balita gitu jarang ada yang bagus di Indonesia. Udah kebayang aja nanti aku pulang lisha kayak apa ngambegnya, mungkin digendong aku pun gak mau. Tapi aku bawa banyak oleh2 jadi semoga dia gak terlalu ngambeg.

Ayahnya kubeliin buku yang selama ini dia impikan, apalagi kalo gak buku tehnik elektro, he..he..he…!! Suamiku tercinta yang penyabar dan setia itu memang penggila buku2 tehnik dan perang dunia. Bahagia juga sih dapet hotel yang deket banget sama Barnes & Nobles di Arapahoe Marketplace, jadi cari buku apa aja selalu ada.

Kemarin baru beli buku Supernanny yang berawal dari sebuah reality show tentang Nanny yang jago sekali nanganin anak2 balita senakal apapun, jadi bukunya isi trick2 mengatasi dan mendisiplinkan anak. Lumayan buat bekal ngasuh lisha kalo udah 2 tahun September tahun ini. Lagipula rencananya pulang dari sini April ini mau langsung usaha buat bisa hamil lagi, mau bikin adiknya Lisha, he..he..he..!

Untung kerjaan memang banyak dan menyita waktu jadi kalo jam2 kerja memang gak terlalu kerasa berat, tapi kalo udah sendirian di kamar gini pengennya balik ke suasana main di kasur sama suamiku dan lisha. Bener2 hal2 sesederhana itu pun tidak bisa tergantikan oleh apapun. I miss my husband and my daughter so very much! Semoga Maret cepat berlalu dan datanglah April waktunya aku pulang ke ibu pertiwi.

Audiyanti ibunya Falisha