Kehidupanku selama di ITB

Dulu waktu ayahku cerita dia sekolah di Arsitektur ITB, aku langsung terkesan dan langsung pengen sekolah disana setelah diajak naik kuda lewat ITB sama ayahku. Terus aku sadar aku ternyata sama sekali gak bisa nggambar jadi minimal Arsiteknya gugur. Tapi harapanku untuk sekolah disana rupanya tetap tersimpan dalam hati walaupun udah sekolah pindah2 dari mulai di TK & SD KBH Balikpapan, ke SDN Ciujung 4 Bandung, trus SDN Pesanggarahan 03 Pagi Bintaro jaksel, sampai akhirnya di SMPN 11 dan SMAN 6 Jakarta. Pas tahun terakhirku di SMAN 6 aku punya 3 sobat (the best in the world) Nining, Dino, dan Ivan. Mereka bertiga punya cita - cita yang berbeda, Nining akhirnya masuk Teknik Gas & Petrokimia UI dan Dino akhirnya masuk Teknik Sipil ITB sementara Ivan berbahagia dengan dunianya di Perbanas (sorry van, gue kayaknya gak pernah ngerti lu ambil jurusan apa). Kita pergi UMPTN sama2 dan nongkrong sama2 sepulang UMPTN padahal aku dan Nining ambil IPA dan Dino n Ivan ambil IPC. Akhirnya aku terdampar di Teknik Kimia ITB gara2 dapat inspirasi dari tungku pembuatan semen di buku pelajaran kimia anorganik waktu SMA dan dapet banyak masukan dari almarhum bokapnya Yanna, satu lagi my best friend (where are you Yanna?). Tahun pertama di ITB bukannya diisi sama semangat belajar malah sibuk pacaran sama Dino (lho??) dan latihan marching band n karate. Walaupun akhirnya terbukti acara pacaranku sama Dino gak lebih dari 1 tahun 10 hari (he..he..he..bener gak ya?) dan karateku juga cuma sampai tahun pertama itu aja, tapi kalo marching band tetep dong soalnya Marching Band Waditra Ganesha adalah komunitas terindah dalam hidupku.

Untungnya di MBWG banyak sekali seniorku Teknik Kimia jadi dapet banyak  bimbingan dari mereka supaya kuliah gue lebih terarah, thanx berat Robert, Nadjib, Widi and Mas Anto. Tahun kedua setelah ospek jadi lebih serius ke kuliah karena mata kuliahnya juga mulai susah2. Kondisi ekonomi keluargaku gak bagus jadi aku terpaksa pindah ke rumah Bibiku di Padasuka di akhir tahun kedua. Kehidupan kuliahku sempet terganggu juga sama acara pacaranku sama Micko yang juga gak bertahan lama, cuma setahun-an dari ospek ke ospek lagi. Dan gak tau kenapa sejak putus dari Micko gue tergerak untuk pake jilbab dan gue masih sangat comfort dengan keputusanku itu sampai sekarang.

Indeks prestasiku gak pernah nyampe 3.0 karena emang lebih serius ber MBWG daripada kuliah, selain juga hampir setahun gak punya pacar bikin sebel, padahal di jurusanku tadinya kita bersahabat berenam, Aku, Micko, Dian, Ivan (lain dari ivan yang SMA), Anti dan Leo tapi akhirnya kita jalan sendiri2 karena aku dan micko gagal bertahan pacaran, Dian n Ivan juga sempet pacaran tapi juga gak berlanjut. So di akhir2 tahun kuliahku di ITB akhirnya aku termotivasi sama partner penelitianku tercinta Umi Kulsum, you are the greatest !. Waktu pertama kali aku dipasangin sama dia aku berusaha untuk optimis karena aku belum pernah deket sama dia sebelumnya, aku langsung teriak "Umi kamu partnerku !" dan Umi cerita waktu itu dia berpikir dalam hatinya "Siapa loe ?" which is supposed to be crossed my mind too..he…he..he..! Tapi bener2 kalo gak ada Umi mungkin gue gak pernah lulus deh beneran.

Terus terang teknik kimia itu memang gak gampang tapi sebenernya gak terlalu susah juga dan yang paling penting gak perlu bakat sama sekali. Waktu aku kuliah disini rasanya gak pernah kebayang aku harus menghadapi hal yang sama dalam kerjaan seumur hidupku karena jelas aku gak akan pernah jadi Chemical Engineer yang istimewa karena nilaiku selalu pas-pasan.

Bahkan waktu ujian komprehensif aku stress setengah mati dan untungnya Anti mengusulkan system yang paling efektif dimana kita akhirnya nginep di rumah Anti seminggu sebelum kompre, bagi materi kompre jadi 3 bagian, satu buat aku, satu buat Anti dan satu buat Ririen. Setelah kita menguasai satu topik kita harus presentasi buat semuanya jadi kita gak belajar terlalu banyak materi. Aku sama sekali gak bilang sama ortuku waktu aku ikut kompre, cuma bilang sama adikku yang kebetulan baru aja masuk jurusan Geofisika dan Meteorologi di ITB juga waktu itu. Waktu pengumuman kompre rasanya mau pingsan, stress banget dan akhirnya kaget banget waktu diumumin aku lulus. Sayangnya waktu itu Ririen gagal ikut kompre karena masih kesandung pengendalian dan Leo bahkan gagal kompre dan harus ngulang lagi. Jadi yang lulus waktu itu aku, Anti dan Micko. Ivan belum bisa ikut kompre dan Dian udah pindah belajar kedokteran di Inggris.

Pas akhirnya kerja di Rekayasa Industri, gak nyangka bisa bertahan karena kerjaanku sehari2 tuh teknik kimia abis dan gak jarang aku tampak bodoh karena terus terang aku gak terlalu gape di dasar2 ilmu teknik kimia, aku suka cari praktisnya aja. Salah satu yang menginspirasiku untuk menekuni bidang ini adalah pengalamanku waktu Kerja Praktek di Pupuk Sriwijaya IB yang dibangun sama Rekayasa Industri. Tapi pengalamanku di ITB lah yang membawaku seperti sekarang dan membekaliku dengan banyak pelajaran hidup. Akhirnya aku beranjak dewasa dan bisa merancang prinsip hidupku sendiri. Bahkan suamiku tercinta juga jebolan kampus ini dan kita punya pengalaman sendiri2 yang akhirnya saling memperkaya satu sama lain.

Memang banyak orang bilang kehidupan di ITB itu klise dan arogan, tapi yang aku jadikan pelajaran bukan itu, bukan bahwa mahasiswa ITB tuh pasti pinter2 tapi suka demo. Tapi yang aku petik dari kehidupanku di ITB adalah bahwa bhinneka tunggal ika itu memang menghasilkan banyak pelajaran, bahwa rambut bisa sama hitam tapi isi kepala jauh berbeda. Begitu banyak kehidupan yang pernah kusentuh hanya karena aku berteman dengan mereka dan begitu banyak kesalahan yang aku lakukan yang pernah menyakiti hati mereka namun begitu banyak maaf yang aku terima karenanya.

Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10 Bandung adalah satu dari sekian banyak guru dalam kehidupanku yang tidak akan pernah kulupakan selama hidupku.

IN HARMONIA PROGESSIO !!!!!!!!

2 Responses to “Kehidupanku selama di ITB”

  1. Yoso Says:

    Well, warna warni hidup. Wahai manusia, setiap detik merupakan pelajaran dan pengalaman berharga. Jangan lewatkan sedikitpun. Menyesalah bila kamu baru menyadarinya.

  2. Switsy Says:

    he3x..mBak Audi!!! (masih suka ngamuk gak klo dipanggil mBak??) Blogs nya seru, padat dan berisi. Salam u/ kluarga
    kyknya banyak anak TeK-kim di BSD skarang … smentara gw malah pindah dari Tangerang ke Cibubur

Leave a Reply