Why Mommy Always Restless

Ibu_lisha_kudaponi Setiap kali aku berangkat ke kantor sambil mendadahi Falisha-ku tercinta, setiap waktu itu pulalah aku menyesali mengapa aku harus meninggalkannya di rumah bersama pengasuhnya.

Namun setiap kali aku dapat mengerjakan pekerjaanku dengan baik dan mendapat apresiasi yang baik pula dari atasan dan rekan - rekan kerjaku, di saat itu pula selalu terpikir dalam benakku betapa Falisha akan bangga pula pada diriku.

Kalau mengikuti hati ini, ingin rasanya selalu di rumah bersama bidadariku tercinta, berlari - lari mengejarnya atau bertepuk tangan sambil bernyanyi dan berjoget bersamanya.

Namun aku menyadari banyak pertimbangan lain yang harus aku pikirkan, baik mengenai kecukupan ekonomi agar dapat membekali Falisha dengan dana pendidikan yang cukup, menjaga periuk nasi apabila suatu saat (God’s forbid) terjadi hal buruk yang menimpa ayah Falisha sehingga aku harus bisa menopang hidup kami, menjaga juga agar otakku tetap cerdas dan update agar suamiku tidak tergoda berpaling pada wanita lain, mengaktualisasikan diri agar aku merasa bahwa aku orang yang membawa manfaat kepada lingkunganku, dan seabreg lagi pertimbangan yang semakin membuatku sulit meninggalkan pekerjaan.

Muara dari semua hal itu akhirnya berdampak dengan perasaanku selama di kantor. Rasa resah itu selalu ada, rasa ingin berangkat kantor setelat mungkin juga selalu ada, rasa ingin pulang secepat mungkin juga selalu ada, dan rasa takut jika waktu aku sampai rumah ternyata Falisha telah tidur pun sering menghantuiku.

Yang akhirnya segala penyesalanku itu aku bayar dengan berusaha semaksimal mungkin bermain dengan Falisha selama weekend dan malam - malam aku pulang dari kantor. Memang Falisha belum tahu betapa lamanya aku tak berada di dekatnya, tapi semoga ia mengerti pertimbangan - pertimbanganku itu kelak.

Semoga Falisha tahu bahwa aku akan selalu mencintainya, memikirkannya dan mendoakan kebahagiaannya setiap waktu.

Untukmu Falishaku…..

Leave a Reply