Yapen 3 Nusa Loka BSD

Dsc01543 Itu adalah nama jalan di depan rumahku. Mungkin belum tepat dikatakan jalan, karena lebarnya paling - paling hanya 3 m, ujungnya buntu lagi. Namun disitulah aku memulai kehidupan berumahtangga dan bertetanggaku.

Kebetulan jalan di depan rumah kami memang tidak terlalu besar, sehingga otomatis kami menjadi akrab satu sama lain. Tetanggaku selalu memperhatikan jika ada yang aneh terjadi dengan rumahku saat ditinggal pergi. Dan setiap kali keluar rumah pun kami selalu bertegur sapa karena jarak yang memisahkan rumah kami tidak jauh.

Beruntungnya lagi tetangga - tetanggaku berumur kurang lebih sama denganku, yaitu di awal 30-an. Dengan demikian pergaulan kami juga santai, jarang ada basa - basi tetapi selalu akrab satu sama lain. Pekerjaannya pun berbeda - beda, ada Mama Ibnu, Mama Vina, Mama Arya dan Mama Daniel yang ibu rumah tangga, ada Bunda Alghi yang bekerja di marketing pabrik adidas, ada Mama Tiara yang guru, ada Mama Laras dan Mama Rani yang pengusaha kecil - kecilan, ada Mama Shifa yang buka pengobatan alternatif, ada Mama Dea yang bekerja sepertiku dan masih banyak lagi. Begitulah kami - kami para ibu biasa disapa, namaku berubah dari Ibu Audi menjadi Mama Lisha sejak Falisha lahir.

Asyiknya lagi, Falisha punya banyak sekali teman sebaya. Ada Daniel, Ibnu, Afif, Alghi, Attar dan Arya yang laki - laki dan lebih besar dari Falisha. Ada Laras, Shifa, Syechan, Vina, Andrea dan Maura yang perempuan dan lebih besar dari Falisha. Ada Alya dan Febby yang sebaya. Ada Tiara, Veni, dan Leo yang lebih kecil dari Falisha. Setiap sore semua anak - anak itu berkumpul di kavling kosong di ujung jalan kami. Anak - anak laki - laki bermain bola atau main layangan sementara yang perempuan bermain sepeda roda 3 atau kejar - kejaran. Itulah kenapa aku tak repot memikirkan kapan anakku perlu sekolah, toh sosialisasinya sudah sangat baik. Falishapun sudah kelihatan bisa bermain dengan orang lain dan tahu apa artinya bersosialisasi dengan teman - teman sebayanya.

Selain itu tetangga - tetanggaku juga sangat toleran dan tidak "nosy". Hampir tidak pernah terdengar acara kumpul - kumpul untuk bergosip dan menjelek2an satu sama lain. Paling berkumpul di tukang sayur sambil membahas masakan atau di lapangan saat menemani anak - anak mereka bermain atau bahkan pada saat arisan.

Kami cukup kompak dan akrab yang terbukti pada saat kami harus menjadi panitia 17 Agustus se-Nusa Loka dan sewaktu merayakan ulang tahun Engkong di puncak (foto insert).

Sampai saat inipun lingkungan kami terhitung cukup aman karena bapak - bapaknya sering meronda dan berjaga bergantian sampai lewat tengah malam. Itulah yang membuatku betah tinggal disini dan tidak terpikir untuk pindah.

Walaupun rumah kami kecil, tapi kehangatan itu selalu terasa di lingkungan kami sehingga kehidupan jauh terasa lebih tentram. Semoga ketenangan ini dapat berlangsung selamanya. Amin.

Warga Jl. Yapen 3 Nusa Loka Sektor 14.6 Bumi Serpong Damai Tangerang

Leave a Reply