Jadi Band Manager ?? Fiuh !

JADI BAND MANAGER ? MIMPI AJA NGGAK… Cerita ini bermula dari 13 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1993. Pada saat itu aku baru setahun masuk ITB dan baru saja merasakan kehidupan kemahasiswaanku. Pada waktu masuk setahun yang lalu kami semua mahasiswa baru harus memilih 1 unit kegiatan olahraga dan 1 unit kegiatan seni/pendidikan. Dikarenakan sejak SMA aku mengikuti olahraga karate jadinya untuk olahraga otomatis aku memilih karate. Untuk unit kegiatan kesenian sebenarnya dari dulu aku senang menyanyi, namun setelah mendaftar di paduan suara ternyata aku tidak terpilih. Pilihan keduaku waktu itu adalah Marching Band karena kupikir banyak sekali alat musik disana, pastinya ada yang bisa aku mainkan ya ? Masuklah aku ke unit kegiatan Marching Band Waditra Ganesha (MBWG) ITB. Sewaktu coba alat, aku tertarik pada trumpet karena kelihatannya mudah memainkannya. Namun ternyata perkiraanku salah !!! Hampir sepanjang masa orientasi yang disebut PINKA (Program Integrasi dan Kaderisasi Anggota) aku masih saja tidak bisa mengeluarkan satu not pun dari trumpet. Bang Robert yang mengajariku dan sekaligus kakak angkatanku pun sudah menyerah dengan kesulitanku itu. Sampai akhirnya aku bisa meniup dengan terbata - bata dan akhirnya diperbolehkan memainkan trumpet. Lulus PINKA aku dijadikan pemain trumpet, namun seringkali aku tidak bisa memainkan satu lagu dengan baik karena teknik meniupku masih saja kurang baik. Setelah bertanya sana sini akhirnya aku memberanikan diri mencoba bermain trombone slide, ternyata itu memang jodohku dan aku akhirnya bertahan jadi pemain trombone. Bahkan sampai pernah tergabung dalam Big Band Waditra Ganesha (BBWG). Masa - masaku di MBWG adalah masa - masa yang amat menyenangkan. Namun seiring dengan semakin besarnya tanggung jawab hidupku, semakin kecil adanya kesempatan seperti itu terulang. Sampai akhirnya pada tahun 2004 teman - temanku yang semuanya telah bekerja ingin membentuk lagi Big Band yang terdiri dari hanya para alumni saja. Ingin rasanya aku ikut, namun pada saat itu juga Falisha lahir sehingga perhatianku tercurah untuknya. Setelah Falisha beranjak dewasa, muncul lagi kekangenanku pada suasana yang amat menyenangkan dulu itu dan ingin terlibat kembali. Sampai pada akhirnya teman - temanku yang tergabung dalam Van Alloy Big Band (VABB) memutuskan untuk membuat konser sendiri, aku menawarkan diri untuk menjadi ketua panitianya. Suasana itu kembali merasuki hari - hariku, senang bertemu dan berkumpul kembali dengan temen - teman big bandku walaupun kadang masih merasa bersalah meninggalkan Falisha di rumah. Dalam persiapan menuju konser sendiri itu pun tercetus keinginan agar VABB lebih profesional dan punya Band Manager. Seiring dengan persiapan konser akhirnya mereka memintaku untuk menjadi Band Manager. Mulanya aku hanya senyum - senyum saja menanggapi hal itu, namun kesibukan menyiapkan konser menjadikan aku seakan - akan memang Band Manager. Sewaktu Konser Sendiri VABB akhirnya tunai digelar pada 26 Novemer 2006 kemarin, terasa lagi lelahnya menjadi aktivis seperti ini. Rasa bersalah karena sering meninggalkan Falisha juga semakin memuncak. Apalagi jika aku terlihat panik dan gundah dalam masa persiapan sebuah penampilan, suamiku menjadi khawatir dan jadi ikut sedih melihatku tersiksa (walaupun aku tidak merasa demikian). Jadi terpikir apakah aku benar - benar bisa memegang amanah ini ? Sampai batas mana aku masih tetap bisa menyeimbangkan hari - hariku sebagai pegawai kontraktor, ibu dari putriku, istri dari suamiku dan band manager ? Entahlah…biasanya dari pengalaman hidupku…hanya waktu yang bisa menjawabnya. Akan terus kujalani selama aku masih merasa bisa melakukannya. Semoga….

Leave a Reply