Sudden Deafness - Trip to the Darkest Jungle
Saat anakku tiba – tiba tidak dapat mendengar dengan diagnosa profound deafness, kami sebagai orang tua serasa seperti masuk rimba belantara yang gelap gulita, tak ada petunjuk sedikitpun kemana kami harus melangkah. Yang dialami hanya menjalani serangkaian tes yang rata – rata memerlukan waktu sekitar 1 jam pada setiap tesnya. Hasil yang didapat lagi – lagi sama yaitu “Anak ibu mengalami kerusakan pendengaran parah yang tidak reversible dan tidak ada obatnya”. Kami juga menemui banyak dokter di seantero Jakarta ini namun tidak mendapatkan support sedikitpun tentang apa yang harus kami lakukan, hanya mendapatkan segepok resep dan perintah untuk menghabiskan obat serta menjalani lagi – lagi tes setelahnya. Kami bingung melihat begitu banyak obat – obatan yang harus ditelan Falisha dan seringkali ketika kami cari informasi mengenai obat tersebut, isi obat tersebut tidak berhubungan langsung dengan apa yang sedang diderita Falisha. Karena kondisi Falisha amat sangat sehat, dia sudah bisa berjalan bahkan berlari lagi seperti semula serta berbicara dengan lancar tentang apa saja yang ada dalam benaknya.
Akhirnya kami dianjurkan untuk memakai Alat Bantu Dengar (Hearing Aid) dan menjalani serangkaian terapi. Saat akhirnya memutuskan untuk membeli alat di Kasoem Hearing Centre Cikini, yang sama sekali tidak murah itu, kami hanya mampu membeli 1 buah karena harus yang lumayan canggih. Saat Falisha mulai memakainya, kami sempat frustasi karena rasanya tidak ada pengaruhnya sama sekali.
Kami juga membeli buku tentang membina Balita Tuna Rungu tetapi sebagian besar isinya adalah belajar bicara, yang sudah dikuasai baik oleh Falisha.
Kami malah sempat melakukan observasi ke SLB Santi Rama untuk mengetahui apakah Falisha bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik disana. Saat di Santi Rama kami melihat dengan jelas bagaimana pertumbuhan anak – anak yang tuna rungu sejak lahir, bicaranya pun masih amat sangat tidak jelas. Kami malah jadi was was karena Falisha sudah pandai bicara.
Saat itu kami mendapat rujukan dari salah seorang sahabat di Singapore (thanks Hera, you’re truly a hero) untuk menghubungi salah seorang professor, dokter ahli THT di National University Hospital di Singapore via email. Luar biasa terkejutnya kami mendapatkan bahwa dokter tersebut begitu cepat membalas email kami secara personal, dengan penuh kasih sayang dan penghormatan. Beliau bahkan menceritakan apa rencananya untuk anak kami dan meminta Falisha datang untuk mendapatkan pemeriksaan. Beliau juga memberikan perkiraan biaya yang harus disediakan. Begitu bahagianya kami bahwa perkiraan biaya untuk pemeriksaannya tidak semahal hearing aid Falisha. Kami sangat berbesar hati mendengarnya dan mulai mempersiapkan segala dokumen dan biaya yang diperlukan untuk dapat menemui beliau.
Sementara itu kami juga mendapat rujukan dari sahabat kami yang lain (thanks to Zuhaira, you’re really our link to inspiration) untuk mendatangi support grup parent sharing Yayasan Rumah Siput Indonesia. Kami sempat pesimis mendatangi acara tersebut karena takut akan lagi – lagi mengecewakan, namun kami datangi juga. Ternyata pertemuan itulah yang menjadi titik balik cara pandang kami terhadap masalah Falisha. Di pertemuan itu kami mendapati banyak orang tua lain yang mengalami apa yang sedang kami alami, dan hebatnya banyak yang anaknya sudah besar (tuna rungu sejak lahir) dan dapat bersekolah di sekolah normal serta hidup seperti anak – anak sebayanya. Kami amat bahagia mendapati bahwa masa depan Falisha ternyata masih amat sangat cerah dan masih ada harapan bagi Falisha untuk hidup normal kembali.
Sejak saat itu kami amat sangat optimis untuk mengatasi masalah Falisha. Kami memulai terapi Auditory Verbal dengan ibu Rinny Sellang (Ketua Yayasan Rumah Siput) yang baik hati dan amat membantu. Ibu Rinny lah yang mensupport kami dan menyatakan bahwa Falisha masih amat sangat mungkin dapat segera mengejar ketertinggalannya dan mendengar lagi jika terus menjalani terapi dengan bantuan Hearing Aid. Beliau juga yang banyak menerangkan tentang Cochlear Implant (implant rumah siput) yang merupakan salah satu alternative yang dapat kami tempuh untuk mengembalikan pendengaran Falisha.
Alhamdulillah kami berhasil mendapatkan akomodasi dan dana sebagai bekal pergi ke Singapore, sehingga akhirnya kami dapat memutuskan untuk pergi ke Singapore agar mendapatkan 2nd opinion mengenai kondisi Falisha.
Sore ini kami akan berangkat ke Singapore untuk bertemu dengan Prof. Lynne Lim dari National University Hospital keesokan harinya. Semoga saja kami mendapatkan hasil yang maksimal dan dapat mengeluarkan kami dari kegelapan rimba belantara ini. Amin.
November 19th, 2007 at 11:54 pm
Semoga Tuhan memberikan yang terbaik buat Ananda….
November 20th, 2007 at 4:32 am
AlhamduliLlah udah ada titik terang. Insya Allah akan selalu ada jalan ya Teh kalo ikhtiar. Tetap semangat yaaa! Semoga kabar baik dari Singapur
December 2nd, 2008 at 9:50 pm
Mbak Audi,
Tadi saya lihat perjuangan Anda di Periskop MetroTV.
Trus langsung googling cari Rumah Siput.
Saya jadi belajar bagaimana menjaga anak-anak kita.
Maju terus, tetap tabah dan sabar, ya.
Salam buat Falisha dan bapaknya.
AH
June 7th, 2009 at 8:21 am
wa_niken…
seneng y wa_niken ga bingung lagi….
salam bwt icha sma bapaknya …
ntar maen lagi sama chacha-chichi y….