Turning Point of Your Life

December 25th, 2006 by audiyanti

In every life, there is always the time when we all reach the turning point of our life.

This event is so complicated that only you yourself could handle the steering wheel.

In mine is around this year of 2006.

I try to decide whether I really want to be a full time mother or staying in my recent job.

This ambiguity bring me to the lack of creativity and motivation on either of the two choice.

My carrier is stuck to what I am now, but instead of pursuing the more promising carrier, I am gratefull that my responsibility in this job is limited.

My nurturing and mothering activity also stuck to where I am right now. Since my daughter already has a mind of her own, I am becoming a boring mother and go with the flow on giving my daughter growing stimulation.

From the way I see it, I had to make decision fast !

I need to know where I am going to be in the next 10 years which is the third decade of my life.

I know that if I want to stay in my carrier, I should pursuing more promising position or get more challenging responsibility in order to advanced.

On the other hand, if I want to become full time mother, I’ll better quit my job while I can and start serious nurturing and mothering from now on.

Still I can’t decide which one is better suited my life.

I know I can’t rely on anybody else to make this decision so I have to do some serious thinking and hopefully I will know the answer by the end of this year, which only give me 5 days left.

Wish me luck !

-Audiyanti K-

Jadi Band Manager ?? Fiuh !

December 6th, 2006 by audiyanti

JADI BAND MANAGER ? MIMPI AJA NGGAK… Cerita ini bermula dari 13 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1993. Pada saat itu aku baru setahun masuk ITB dan baru saja merasakan kehidupan kemahasiswaanku. Pada waktu masuk setahun yang lalu kami semua mahasiswa baru harus memilih 1 unit kegiatan olahraga dan 1 unit kegiatan seni/pendidikan. Dikarenakan sejak SMA aku mengikuti olahraga karate jadinya untuk olahraga otomatis aku memilih karate. Untuk unit kegiatan kesenian sebenarnya dari dulu aku senang menyanyi, namun setelah mendaftar di paduan suara ternyata aku tidak terpilih. Pilihan keduaku waktu itu adalah Marching Band karena kupikir banyak sekali alat musik disana, pastinya ada yang bisa aku mainkan ya ? Masuklah aku ke unit kegiatan Marching Band Waditra Ganesha (MBWG) ITB. Sewaktu coba alat, aku tertarik pada trumpet karena kelihatannya mudah memainkannya. Namun ternyata perkiraanku salah !!! Hampir sepanjang masa orientasi yang disebut PINKA (Program Integrasi dan Kaderisasi Anggota) aku masih saja tidak bisa mengeluarkan satu not pun dari trumpet. Bang Robert yang mengajariku dan sekaligus kakak angkatanku pun sudah menyerah dengan kesulitanku itu. Sampai akhirnya aku bisa meniup dengan terbata - bata dan akhirnya diperbolehkan memainkan trumpet. Lulus PINKA aku dijadikan pemain trumpet, namun seringkali aku tidak bisa memainkan satu lagu dengan baik karena teknik meniupku masih saja kurang baik. Setelah bertanya sana sini akhirnya aku memberanikan diri mencoba bermain trombone slide, ternyata itu memang jodohku dan aku akhirnya bertahan jadi pemain trombone. Bahkan sampai pernah tergabung dalam Big Band Waditra Ganesha (BBWG). Masa - masaku di MBWG adalah masa - masa yang amat menyenangkan. Namun seiring dengan semakin besarnya tanggung jawab hidupku, semakin kecil adanya kesempatan seperti itu terulang. Sampai akhirnya pada tahun 2004 teman - temanku yang semuanya telah bekerja ingin membentuk lagi Big Band yang terdiri dari hanya para alumni saja. Ingin rasanya aku ikut, namun pada saat itu juga Falisha lahir sehingga perhatianku tercurah untuknya. Setelah Falisha beranjak dewasa, muncul lagi kekangenanku pada suasana yang amat menyenangkan dulu itu dan ingin terlibat kembali. Sampai pada akhirnya teman - temanku yang tergabung dalam Van Alloy Big Band (VABB) memutuskan untuk membuat konser sendiri, aku menawarkan diri untuk menjadi ketua panitianya. Suasana itu kembali merasuki hari - hariku, senang bertemu dan berkumpul kembali dengan temen - teman big bandku walaupun kadang masih merasa bersalah meninggalkan Falisha di rumah. Dalam persiapan menuju konser sendiri itu pun tercetus keinginan agar VABB lebih profesional dan punya Band Manager. Seiring dengan persiapan konser akhirnya mereka memintaku untuk menjadi Band Manager. Mulanya aku hanya senyum - senyum saja menanggapi hal itu, namun kesibukan menyiapkan konser menjadikan aku seakan - akan memang Band Manager. Sewaktu Konser Sendiri VABB akhirnya tunai digelar pada 26 Novemer 2006 kemarin, terasa lagi lelahnya menjadi aktivis seperti ini. Rasa bersalah karena sering meninggalkan Falisha juga semakin memuncak. Apalagi jika aku terlihat panik dan gundah dalam masa persiapan sebuah penampilan, suamiku menjadi khawatir dan jadi ikut sedih melihatku tersiksa (walaupun aku tidak merasa demikian). Jadi terpikir apakah aku benar - benar bisa memegang amanah ini ? Sampai batas mana aku masih tetap bisa menyeimbangkan hari - hariku sebagai pegawai kontraktor, ibu dari putriku, istri dari suamiku dan band manager ? Entahlah…biasanya dari pengalaman hidupku…hanya waktu yang bisa menjawabnya. Akan terus kujalani selama aku masih merasa bisa melakukannya. Semoga….

ANAK - ANAK YANG DI GEGAS !

October 5th, 2006 by audiyanti

ANAK-ANAK KARBITAN
Oleh Dewi Utama Faizah*)

*) Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.

Anak-anak yang digegas
Menjadi cepat mekar
Cepat matang
Cepat layu…

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di

kota

hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua …

Captive market I
Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan literatur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidak patutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidaktahuannya!

Anak-Anak Yang Digegas…

Ada

beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap anak. Di antaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik dl dalam dan di luar sekolah.

Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk

Harvard

College

walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian ? James Thurber seorang wartawan terkemuka, pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana seorang Ibu yang bernama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan menggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 6 tahun ia membaca enam buah buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 tahun la menjadi guru matematika di

Michigan

State

University

. Aaron Stern berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.

Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einsten yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun.

Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan "Early Childhood Training". Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasanmya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang dimana-rnana, di Indonesia….

"Early Ripe, early Rot…!"
Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1960 di Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan "peluang emas" bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak ­Kanak (Pra Sekolah).

Taman

Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.

Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah "Era Headstart" merancah dunia pendidikan.

Para

akademisi begitu optimis untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.

Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner, seorang psikolog dari

Harvard

University

yang menulis sebuah buku terkenal " The Process of Education" pada lahun 1960. la menyatakan bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika. "We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development".
Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salahartikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk… early ripe, early rot!

Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.

Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep "kesiapan-readiness" dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang "biological limitations on learning’. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan intelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.

Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak­ anak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi "miniature orang dewasa ". Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak-anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang keingintahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa. sebagai seksual promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah memekarkan bahasa. berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.

Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnva saat perilaku anak menampilkan gaya "kedewasaan ", sementara perasaannya menangis berteriak sebagai "anak".

Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak laki-laki "Heintje" di era tahun 70-an… I’m Nobody’S Child
I’M NOBODY’S CHILD   
I’m nobody’s child I’m nobodys child
Just like aflower I’m growing wild
No mommies kisses
and no daddv’s smile          
Nobody’s touch me I’m nobody’s child

Dampak Berikutnya Terjadi… ketika anak memasuki usia remaja
Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka tidak segan-segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut. Patricia 0′ Brien menamakannya sebagai "The Shrinking of Childhood’. " Lu belum tahu ya… bahwa gue telah melakukan segalanya", begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. "Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks " serunya bangga.

Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar…. kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, …. sebuah proses dalam kehidupannya !

Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga "baby sitter" sebagai pengasuh anak-anaknva. Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai "Cinderella Syndrome" yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi rnenghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.

Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai les, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu.

Para

orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada baby sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak­-anak mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan parenting di lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.

ERA SUPERKIDS
Kecenderungan orangtua menjadikan anaknva "be special " daripada "be average or normal semakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi "to excel to be the best". Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak lagi lainnya…maka lahirlah anak-anak super—"SUPERKIDS’". Biaya merawat anak superkids ini sangat mahal.

Era Superkids berorientasi kepada "Competent Child". Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya "earlier is better". Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Posmant seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah…ketika anak-anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan!

BERBAGAI GAYA ORANGTUA
Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai

gaya

orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan -"miseducation" terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan berbagai

gaya

orangtua dalam pengasuhan, antara lain: 

Gourmet Parents– (ORTU B0RJU)
Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan

gaya

hidup kebarat-baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka "superkids" merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua.

Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknva baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah dimana banyak kelompok orangtua "gourmet " atau- kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.

College Degree Parents — (ORTU INTELEK)
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding, dan kegiatan ekstra kurikular lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka "Superkids ", Apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah,

Gold Medal Parents –(ORTU SELEBRITIS)
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang.

Ada

gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di

Indonesia

.

Ada

juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi "seorang Bintang Sejati ". Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi "Sang Juara", mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang cilik ketika anak-anak mereka masih berusia TK.

Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di

Padang

puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta.Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi maskara mata kecil mereka.

Para

orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar.

Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan kelular sebagai pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas.Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK rnengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus "bintang cilik" Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!

Pada tanggal 26 Mei lalu kita sasikan di TV bagaimana bintang cilik "Joshua " yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara, kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang "superkid "–seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film,….

Do-it Yourself Parents
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah., di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya "Superkids"–earlier is better". Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.

Outward Bound Parents— (ORTU PARANOID)
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka Iebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat-tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep "Superkids " Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya "Karate, Yudo, pencak Silat" sejak dini. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi "steril" dengan lingkungannya.

Prodigy Parents –(ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, namun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya. Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-­anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang "Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca" karangan Glenn Doman, atau "Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika " karangan Siegfried, "Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang " karangan Therese Engelmann, dan "Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 6 Hari " karangan Sidney Ledson

Encounter Group Parents–(ORTU NGERUMPI)
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya. Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-­anak dengan berbagai perilaku "gang ngrumpi" yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai "Superkids" juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak-anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.

Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan. Kelompok ini tidak berpeluang menjadi orangtua yang melakukan "miseducation " dalam merawat dan mengasuh anak-anaknva. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.

Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang menyebabkan kehangatan. Hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya.

Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan didirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik !

KAMU HARUS TAHU BAHWA TIADA SATU PUN YAN6 LEBIH TINGGI, AtAU LEBIH KUAT, ATAU LEBIH BAIK, ATAU PUN LEBIH BERHARGA DALAM KEHIDUPAN NANTI DARIPADA KENANGAN INDAH ­TERUTAMA KENANGAN MANIS DI MASA KANAK-KANAK. KAMU MENDENGAR BANYAK HAL TENTAN6 PENDIDIKAN, NAMUN BEBERAPA HAL YAN6 INDAH, KENANGAN BERHARGA YANG TERSIMPAN SEJAK KECIL ADALAH MUNGKIN ITU PENDIDIKAN YANG TERBAIK. APABILA SESEORANG MENYIMPAN BANYAK KENANGAN INDAN DI MASA KECILNYA, MAKA KELAK SELURUH KEHIDUPANNYA AKAN TERSELAMATKAN. BAHKAN APABILA HANYA ADA SATU SAJA KENANGAN 1NDAH YANG TERSIMPAN DALAM HATI KITA, MAKA ITULAH KENANGAN YAN6 AKAN MEMBERIKAN SATU HARI UNTUK KESELAMATAN KITA"—DESTOYEVSKY’S BROTHERS KARAMOZOV—

PERSPEKTIF SEKOLAH YANG MENGKARBIT ANAK
Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah "Industri" dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak.

Ada

program akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk.
Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai "Operator kurikulum" dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah, Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi "pengabar isi buku pelajaran " ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan "mesin-mesin dalam menskor" capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak. Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi ? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran ? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah— dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk…. Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong kehidupannya !

Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan "pedagogy of the oppressed" terhadap anak-anak didiknya. Dimana guru mengajar anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran (Freire, 1993). Model pembelajaran banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan persaingan ranking wilayah….

Mengkompetensi Anak— merupakan `KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN ?"
"Anak adalah anugrah Tuhan… sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasaYanig bertanggungjawab… "(Nature versus Nurture).
bagaimana ? Karena ada dua pengertian kompetensi ; kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri
Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita-­sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pebelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut :
" Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and I’ll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select–doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of this talents, penchants, tendencies, vocations, and race of his ancestors ".

Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan "intervensi dini " setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya.

Ada

sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut

New Jersey

pada tahun 1976. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur "Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill) "dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut :
`The improvement in those areas were not the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Yersey".

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah. Semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-­kompetensi perolehan pengetahuan hanya secara kognitif. Ulah karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif pisik, dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja !. Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya.
Perilaku keingintahuan "curiosity" inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita.

Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan ! "Empty Sacks will never stand upright"—George Eliot

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari "karakter". Dimana mereka mendidik anak menjadi "good and smart "-terang hati dan pikiran

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan "how learn to learn" pada anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya ber jam jam untuk belajar anatomi tubuh manusia.

Thomas Edison mengatakan bahwa "genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration ". Semangat belajar "encourige’ - TIdak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan hati—kesukaan dan kecintaan— belajar. Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak.

Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan "moral literacy" melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr). lnilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik ….

PENUTUP
Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran— "good and smart "— merupakan tugas kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua. Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.

Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi "SUPERKIDS". Inilah fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak karbitan ! Lihatlah nanti…ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan.

Ulang Tahun Falisha ke-2 - Perlu Gak Sih ?

October 2nd, 2006 by audiyanti

Jadi ibu bekerja dan pengen bikin sesuatu yang khusus buat putri tercintanya memang gampang - gampang susah. Gampang karena ternyata banyak kenalanku yang bisa bikin acara yang spesial dan unik banget completely on her own dan susah karena ternyata pas aku sendiri yang ngelakuainnya, berat bow ! Ceritanya Falisha tanggal 28 September 2006 kemarin genap 2 tahun (dihitung dari hari kelahirannya secara dia lahirnya 38 minggu alias awal). Tadinya gak pengen bikin rame - rame secara juga bulan puasa dan gak bisa bikin acara makan2 yang relaks waktu dan tempatnya. Tapi pas arisan bulan lalu tiba - tiba ditawarin mau arisan di rumah atau nggak. Setelah dipikir - pikir ya bolehlah sekalian ulang tahun Falisha juga, jadi tamu yang dateng bisa diandalkan, soalnya pada mupeng dapet arisan.

Sejak mutusin hal itu langsung kepala pusing mikirin apa yang mesti dipersiapkan buat acara itu. Tadinya kepikiran karena arisannya minggu, sabtunya pengen bikin acara buka puasa keluarga dekat sambil syukuran ulang tahun Lisha. Gak tau kenapa, niat buat nelpon2 kakak ipar dan mertua tertunda - tunda terus. Lisha_raja_sep2006_019_hpDari seminggu sebelumnya aku sudah siap - siap ngukur budget dan apa aja yang mesti dibeli dan dibikin. Untungnya 2 minggu sebelumnya waktu pulang acara pernikahan salah satu temen kantor, kita sempet foto keluarga dan ada close-upnya Falisha juga. Berbekal foto itulah lalu terpikir bikin kue ulang tahunnya pake edibel foto aja. Ternyata salah satu bakery yang deket kantor bisa terima pesanan via email. Wah bagus banget nih pikirku. Jadi langsung ku email foto Falisha yang sudah jadi tersebut via email dan memesan kue ulang tahunnya sekalian. Beres satu hal deh pikirku !

Selanjutnya biasa deh anak - anak, khan musti ada kemeriahan. Jadi nyempetin sebelum Ramadhan tiba, ke pasar tebet, ke asemka dan ke makro untuk melengkapi goody bag yang berupa tas ransel mungil dan diisi dengan berbagai cemilan dan minuman anak - anak. Seminggu sebelum acara semua goody bag sudah siap dan disimpan rapih di kamar tamu.

Berhubung acaranya bulan Ramadhan, jadi aku pikir akan sangat praktis kalo aku bagikan nasi kotak saja dibandingkan makan langsung di rumahku. Jadi kupesan deh nasi kotakan favoritku, langganan mamaku. Nasi kotak siap diantar pada hari-nya nanti dengan komposisi yang menarik dan alhamdulillah gak terlalu mahal. Tajilnya kupikirkan nanti saja mendekati hari-nya.

Akhirnya semua persiapan telah selesai. Tinggal menunggu hari-nya saja.

Tiba - tiba di hari ulang tahun Falisha, Kamis 28 September 2006, Falisha demam tinggi. Waktu bangun tidur kuraba panas sekali. Waktu kuukur dengan termometer panasnya sudah mencapai 39 deg C. Langsung kuputuskan untuk berangkat kantor agak siang. Kumandikan dulu Falisha dan kuajak minum susu. Selesai mandi Falisha sudah agak ceria lagi dan demamnya sudah turun ke 38 deg C. Jadi kuputuskan berangkat ke kantor. Sesampainya aku di kantor, kebetulan hari itu aku punya beberapa tanggung jawab yang harus ditunaikan di kantor, jadi langsung sibuk. Pukul 9 saat kutelpon pengasuh Falisha, jawabnya demam Falisha sudah naik lagi ke 40 deg C dan Falisha amat sangat rewel. Aku sempat kaget karena tidak menyangka akan secepat itu naik kembali. Aku segera menyelesaikan semua tanggung jawabku dan pukul 10 kutelpon lagi ke rumah. Jawabnya masih sama, temperatur Falisha sudah sedikit diatas 40 deg C dan semakin rewel serta lemas, inginnya digendong terus. Akhirnya kuputuskan untuk pulang karena di keluarga suamiku ada riwayat kejang demam untuk anak perempuan. Untungnya suamiku menyuruhku membawa mobil sehingga langsung kutinggalkan kantor dan meluncur ke rumah.

Sesampainya di rumah Falisha tak mau lepas dariku. Demam tinggi tetap di angka 39 - 40 deg C kecuali sehabis mandi. Malah hari Jumatnya diiringi mencret dan muntah - muntah. Suamiku pun mendampingiku di rumah, takut ada kondisi emergency yang membuatku panik. Sampai akhirnya aku putuskan mengunjungi DSA Falisha sekedar meminta konfirmasi diagnosa dari apa yang dihadapi Falisha. Sayangnya komentar DSA Falisha hanya infeksi pencernaan dan akan sembuh dengan sendirinya. Jadi kupikir ya sudahlah, aku tunggui saja Falisha di rumah, toh acara arisannya masih hari minggu.

Sabtu pagi kondisi Falisha mulai membaik, panasnya telah turun ke 37 deg C. Bahkan sesudah mandi dan makan pagi, kondisinya kembali normal. Tapi entah kenapa sensitif dan rewel sekali, sepertinya badannya tidak nyaman dan sakit semua. Tapi karena Falisha baru saja sembuh dan kelihatan masih rewel, kuputuskan acara makan - makan keluarganya tidak jadi saja. Untung belum ada yang kuhubungi soal itu. Seharian itu kami sekeluarga mempersiapkan untuk acara besok. Merapihkan layout rumah dan meniup semua balon untuk dibagikan nantinya.

Minggu pagi pun tiba. Falisha sudah sehat namun terlihat sedikit bintik - bintik merah di wajah dan telinganya. Namun karena terlihat ceria, jadi kuajak saja dia ke pasar dan mengambil kue ulang tahunnya. Akhirnya kuputuskan tajilnya korma, tahu sumedang dan es buah saja. Falisha pun kupilihkan baju kurung oleh - oleh ayahnya dari Dubai. Rumah mulai dibereskan, hiasan - hiasan warna - warni ditempelkan dan semua makanan disiapkan. Akhirnya acara arisan pun tiba. Alhamdulillah cukup sukses dan dihadiri banyak anak-anak yang membawa kado untuk Falisha. Sesudah acara selesai, Falisha masih kuajak pergi ke rumah sepupu dan eyangnya untuk mengantarkan goody bag khusus dan kue ulang tahun untuk mereka. Malam itu kami semua lelah dan langsung pergi tidur.

Saat waktu sahur tiba, aku terbangun dan melihat bintik - bintik merah di tubuh Falisha semakin banyak. Dari referensi kuketahui bahwa sepertinya Falisha terserang Roseola, alhamdulillah tinggal penyembuhan saja karena demam tingginya sudah lewat. Jadi senin pagi dia kutinggal ke kantor. Sepulang kantor kulihat bintik - bintik merahnya semakin melebar dan semakin banyak. Falisha juga rewel sekali dan tidak mau lepas dariku. Namun pekerjaan kantor tidak bisa aku tinggalkan. Hanya doaku saja semoga Falisha lekas sembuh dan sehat kembali seperti sedia kala.

Terpikir olehku, kalau saja tidak ada acara - acara Ulang Tahun itu, mungkin Falisha bisa lebih banyak beristirahat. Namun Falisha juga terlihat sangat senang pada acara ulang tahunnya. Jadi kupikir ya sudahlah, semoga ada berkahnya. Sampai ulang tahun Falisha yang ke 5, waktunya selalu bertepatan dengan Ramadhan atau Idul Fitri. Jadi kuputuskan, ulang tahun Falisha berikutnya saat 6 tahun saja.

Selamat ulang tahun ya anakku tercinta ! Semoga panjang umur, murah rejeki, enteng jodoh, sehat selalu dan berada dalam lindungan Allah SWT selamanya. Amin.

Marhaban Ya Ramadhan

September 20th, 2006 by audiyanti

Assalamu’alaikum …………

Setiap Ramadhan datang, selalu banyak rencana yang pengen dikerjakan. Dari sejak bulan Syaban (Agustus Akhir - September Awal) sudah sibuk bikin rencana macam-macam. Bikin target harus ini itu selama bulan Ramadhan karena berusaha menghapus segala dosa-dosa yang telah lalu. Mikirin menu buat sahur dan berbuka supaya ibadah puasa lancar penuh berkah. Siapin mukena dan sajadah serta peralatan sholat buat suamiku tercinta dan para mbak-mbak di rumah. Baca - baca ini itu buat mengingat - ingat lagi apa - apa saja yang harus dilakukan selama bulan Ramadhan. Beli baju buat sholat Ied nanti, baik buatku sendiri, suamiku maupun anakku. Gak ketinggalan juga hunting baju buat nyokap-bokap dan mertuaku.

Belum lagi kegiatan di kantor, sebagai ketua Divisi Muslimah majelis taklim di kantor, aku kebagian berbagai tugas selama kegiatan Ramadhan di kantor. Dari mulai soal konsumsi setiap pengajian dan acara - acara lainnya, koordinasi sama muslimah yang lain buat bantu kegiatan bazaar, sampe survey dhuafa sekitar kantor buat dikasih sembako nanti mendekati lebaran.

Pengennya memang kalo Ramadhan tuh kita khusuk ibadah dan banyakin amalan, dari mulai puasanya sendiri, sholat 5 waktu, sholat - sholat sunnah, baca Al Qur’an, sedekah, infaq, dan kegiatan - kegiatan lain yang berhubungan dengan keagamaan. Tapi namanya manusia ya pasti ada saja godaannya, biasanya yang paling bikin sebel adalah kerjaan. Terlibat dalam proyek yang bekerja sama dengan pihak asing repotnya begini, bulan Ramadhan bukan apa-apa buat mereka, jadi target schedule jalan terus, bahkan karena sekarang memang lagi peaknya, ya harus digeber apapun resikonya. Padahal kalo bulan Ramadhan khan kita pengennya pulang cepet, supaya sempat berbuka di rumah bersama suami dan anak, sempat sholat maghrib berjamaah dan sholat tarawih dengan tenang.

Semua cita - cita itu tetap saja akan jadi cita - cita kalo kita gak ambil langkah yang tepat. Itu sebabnya semakin kuat rasanya hasrat untuk tidak lagi bekerja sebagai pegawai begini. Seandainya kerja bisnis di rumah, khan bisa di rem dulu demi bulan Ramadhan. Tidak seperti sekarang yang jika dilihat dari beban kerja sih tidak ada bedanya dengan bulan - bulan yang lain.

Beruntung memang tempat kerjaku masih sangat kental kerohaniannya. Apalagi sejak Mesjid berhasil dibangun, kegiatan jadi semakin atraktif dan variatif sehingga semakin banyak umat yang sempat menyisakan waktu untuk beribadah baik kolektif maupun individu.

Saat ini cuma ada doa dalam hati dan tekad yang kuat agar bulan Ramadhan kali ini jauh lebih baik dari bulan - bulan sebelumnya. Semoga saja hati ini dikuatkan untuk tetap istiqomah menjemput berkah dan pahala sehingga mampu melaksanakan semua yang dicita - citakan. Apalagi Falisha sudah sebesar sekarang, segala contoh yang baik harus diberikan agar Falisha nanti jadi muslimah yang jauh lebih baik dari ibunya.

Ya Allah Ya Rabbi, kabulkanlah…..

Learning to Read ? Helping Your Child Get Started

September 13th, 2006 by audiyanti

Learning to Read ? Helping Your Child Get Started

Does your child listen closely during story time? Does your child
like to
look through books and magazines? Does your child like learning the
names
of letters? If the answer is "yes" to any of these questions, your
child
may have already learned some important early reading skills and may
be
ready to learn some of the basics of reading. Learning to read
happens
gradually and it’s important to support your child and foster
interest
along the way.
The following are a few tips to keep in mind as your child learns to
read:

Set aside time every day to read together. Many children like to have
stories read to them at bedtime. This is a great way to wind down
after a
busy day and get ready for sleep.

Leave books in your child’s room for her to enjoy on her own. Make
sure her
room is reading-friendly with a comfortable bed or chair, bookshelf
and
reading lamp.

Read books that your child enjoys. After a while, your child may
learn the
words to her favorite book. When this happens, let your child
complete the
sentences or take turns reciting the words.

Do not drill your child on letters, numbers, colors, shapes or words.
Instead, make a game out of it and find ways to encourage your
child’s
curiosity and interests.
Reading books aloud is one of the best ways you can help your child
learn
to read. This can be fun for you, too. The more excitement you show
when
you read a book, the more your child will enjoy it. The most
important
thing to remember is to let your child set her own pace and have fun
at
whatever she is doing. Do the following when reading to your child:

Run your finger under the words as you read to show your child that
the
print carries the story.

Use funny voices and animal noises. Do not be afraid to ham it up!
This
will help your child get excited about the story.

Stop to look at the pictures; ask your child to name things she sees
in the
pictures. Talk about how the pictures relate to the story.

Invite your child to join in whenever there is a repeated phrase in
the
text.

Show your child how events in the book are similar to events in your
child’s life.

If your child asks a question, stop and answer it. The book may help
your
child express her thoughts and solve her own problems.

Keep reading to your child even after she learns to read. A child can
listen and understand more difficult stories than she can read on
her own.
Once your child begins to read, have him read out loud. This can
help build
your child’s confidence in his ability to read and help him enjoy
learning
new skills. Take turns reading with your child to model more advanced
reading skills.

If your child asks for help with a word, give it right away so that
he does
not lose the meaning of the story. Do not force your child to sound
out the
word. On the other hand, if your child wants to sound out a word, do
not
stop him.

If your child substitutes one word for another while reading, see if
it
makes sense. If your child uses the word "dog" instead of "pup," for
example, the meaning is the same. Do not stop the reading to correct
him.
If your child uses a word that makes no sense (such as "road"
for "read"),
ask him to read the sentence again because you are not sure you
understand
what has just been read. Recognize your child’s energy limits. Stop
each
session at or before the earliest signs of fatigue or frustration.

Most of all, make sure you give your child lots of praise! You are
your
child’s first and most important teacher. The praise and support you
give
your child as he learns to read will help him enjoy reading and
learning
even more

dari www.aap.org

Learning to Read ? Age by Age Guide

September 13th, 2006 by audiyanti

Learning to Read ? Age by Age Guide

Learning to read is a gradual process. It helps to start early and
encourage your child’s interest in reading. A child as young as 6
months of
age can begin to enjoy books. The following are some age-by-age
activities
to help your young child learn language and begin to make the
connection
between words and meaning:

Birth to 1 year of age

Play frequently with your baby. Talk, sing, recite rhymes and do
finger
plays. This helps your baby learn spoken language and builds a strong
foundation for reading.

Talk with your baby, making eye contact. Allow time for your baby to
respond before moving on to the next idea.

Give your baby board books or soft books to look at, chew on or bang
on the
table.

Look at picture books with your baby and name the objects that he
sees. Say
things like "See the baby!" or "Look at the puppy!"

Snuggle with your baby on your lap and read aloud to him. He may not
understand the story, but he will love to hear the sound of your
voice and
the rhythm of the language.

1 to 3 years of age

Read to your child every day. Allow your child to pick which books he
wants, even if he picks the same one time and time again!

Let your child "read" to you by naming objects in the book or making
up a
story.

Make regular trips to the library with your child. Most children
find it
very exciting to get a library card. Make this moment something to
celebrate.

Continue to talk, sing, recite rhymes and play with your child.

3 to 5 years of age

By 3 to 5 years of age, most children are just beginning to learn the
alphabet ? singing their ABCs, knowing the letters of their names.
Read
alphabet books with your child and point out letters as you read.

Help your child recognize whole words as well as letters. Learning
and
remembering what words look like are the first steps to learning to
read.
Point out common, everyday things like the letters on a stop sign or
the
logo on a favorite restaurant.

As you read together, ask your child to make up his own story about
what is
happening in the book. Keep reading a part of your child’s bedtime
routine.

Some educational television shows, videos and computer programs can
help
your child learn to read. They can also make learning fun. But you
need to
be involved, too. If your child is watching Mr. Rogers’ Neighborhood
or
Sesame Street, for example, sit and talk about what the program is
trying
to teach. Limit screen time to no more than one or two hours per day
of
educational, nonviolent programs.

If possible, give your child a subscription to a children’s magazine.
Children love getting mail, and it is something they can read as
well!

dari www.aap.org

Waktu Falisha sakit…..

September 3rd, 2006 by audiyanti

Duh paling sedih deh sedunia kalo liat anakku sakit. Rasanya sebel banget kenapa tuh penyakit gak hinggap ke emaknya aja daripada bikin anakku lemes dan menderita seperti itu.

Lisha_agssep_2006_030Waktu itu ceritanya libur panjang 5 hari gara2 17-an Agustus campur sama Isra’ Miraj. Jadi kita sekeluarga udah rencana bikin macem2 kegiatan sama2 biar Lisha seneng mumpung ada ayah ibunya.

Waktu akhirnya malem terakhir, waktu itu Senin, 21 Agustus 2006 malem banget, Lisha keliatan udah mulai batuk2 kecil. Aku pikir pasti karena kecapekan jalan2, main pasir, berenang dan ke time zone beberapa hari terakhir ini. Lisha_agssep_2006_014Selasa-nya aku sudah harus ngantor lagi, jadi kutinggalkan segepok pesan buat pengasuhnya Lisha. By the way pengasuhnya ini baru 2 minggu full megang Lisha berhubung pengasuhnya dari Lisha lahir resign awal Agustus. Jadi kupesenin supaya Lisha banyak minum, baik susu maupun air putih, lebih banyak dari biasanya. Terus pantau temperaturnya takut dia tiba - tiba demam. Juga banyak makan sayur dan jeruk kesukaannya supaya gak terjadi superinfeksi. Pengalaman ku di 2 kondisi sakit Lisha sebelumnya, biasanya tidak akan pernah parah efek dari sakitnya, jadi cukup ditelateni saja. Sebab kalo pun ke dokter pasti dibilang radang tenggorokan (which is gejala & bukan penyakit) terus dikasih deh antibiotik (Which is not even necessary karena penyebabnya biasanya virus untuk anak seumuran Lisha). Selama minggu itu Lisha sehat - sehat aja dan tetap lincah walaupun batuknya memang sedikit lebih parah dan makin berdahak. Kuingatkan pada pengasuh Lisha agar siap - siap kalo Lisha muntah dan jangan panik, karena Lisha belum bisa mengeluarkan dahak sendiri jadi satu - satunya exit way dahaknya adalah dengan muntah (which is safe asal gak nyemprot kenceng). Sabtu berikutnya tanggal 26 Agustus kebetulan ayah ibunya Lisha kecapekan. Selain karena weekend minggu depan mau ke Lembang jadi nabung tenaga, juga kebetulan gak ada yang perlu dilakukan. So kita sekeluarga di rumah aja main sama Lisha. Sampai sabtu sore Lisha masih baik - baik aja dan lincah serta bawel seperti biasa. Tapi sejak batuk itu memang Lisha sering sekali terbangun tengah malam dan nangis 15 menitan sebelum akhirnya tidur lagi. Biasanya cuma minta pampersnya diganti, atau minta dibalurin minyak telon, atau minum susu/air putih atau pengen ngemil sereal kalo masih kelaparan. Sabtu malem jam 2 aku terbangun, tumben pikirku Lisha gak terbangun seperti hari - hari kemarin. Pas kuraba badan Lisha ternyata panasnya menyengat sekali, duh anakku demam, bathinku. Langsung kuambil termometer digital puku - puku Lisha dan kuukur suhu tubuhnya, ternyata sudah 38.5 C. Kuambil sebaskom air hangat dan waslap, lalu kuusap semua tubuh Lisha dengan waslap air hangat itu supaya ada media air yang menyerap panas tubuhnya. Pagi - pagi bangun tidur Lisha tidak sellincah biasanya, kelihatan sekali lemas dan maunya hanya digendong ibunya saja, gak mau sama yang lain. Setelah mandi pagi dan berendam dalam ember berisi air panas agak lama, aku gendong Lisha pake kain gendongan favoritnya kemana - mana hari itu. Siang hari panasnya sudah 39.5 C. Lalu saat kucoba berikan parasetamol, Lisha malah muntah walaupun dia gak nangis sesudahnya. Setelah muntah Lisha kuajak mandi lagi dan berendam dalam bak air hangat bersamaku sekalian membersihkan bekas muntahannya. Seharian gak mau makan dan minum susu, maunya air putih dan itupun sedikit. Pocari sweat atau oralit yang biasanya dia suka juga ditolaknya. Setelah ada sedikit ikan goreng yang masuk ke mulutnya, aku putuskan untuk mencoba memberikan parasetamol lagi pada Lisha, kali ini dalam 2 bagian masing  - masing 1/2 dosis. Alhamdulillah berhasil dan habis itu Lisha minum lumayan banyak lalu tertidur. Selama tertidur aku kompres terus dahinya dengan air hangat dan kuusap sekujur tubuhnya dengan waslap air hangat itu juga. Ayah Lisha kuminta membeli diazepam sebagai obat jaga - jaga kalau saja Lisha mengalami kejang demam, karena ada riwayat kejang demam dalam keluarga suamiku. Bangun tidur Lisha mau makan jeruk sedikit namun muntah lagi sehingga kuajak berendam lagi di air hangat sambil mandi sore. Sehabis magrib suhu tubuhnya malah semakin meninggi dan mencapai 40.5 C. Akhirnya aku putuskan Senin besok aku akan bolos dan membawa Lisha ke DSA-nya. Kutitipkan pekerjaanku pada temanku dan kudaftarkan Lisha pada DSA-nya. Malam itu aku tidak tidur, terus menerus mengompres Lisha dan mengukur suhunya. Sesekali memaksa Lisha bangun untuk minum agar LIsha tidak dehidrasi dan menggendongnya saat dia akan tidur lagi. Jam 4 pagi aku tertidur disamping Lisha. Pagi-pagi pukul 6 Senin 28 Agustus 2006, aku dibangunkan Lisha yng menggoyangkan tubuhku sambil tersenyum memandangku. Duh gadis cantikku sudah mulai merasa enak rupanya. Langsung kusodorkan minum padanya dan kuukur suhu tubuhnya. Alhamdulillah suhunya sudah turun ke 39 C. Artinya demam tertingginya sudah lewat dan insya Allah akan menurun terus sampai batas normal. Kuminta suamiku untuk ke kantor saja dan meninggalkan mobil di rumah untuk jaga - jaga jika demam Lisha meninggi lagi. Alhamdulillah Lisha sudah mau sarapan dan sudah bisa berlari - lari mengejar aku dan pengasuhnya kesana kemari. Suhu tubuhnya masih berkisar di 38.5 C namun Lisha kelihatan ceria. Pagi itu kubatalkan rencana membawa Lisha ke DSA-nya karena toh kondisinya sudah membaik. Sore harinya pada saat ayahnya pulang, suhu tubuh Lisha sudah mencapai 37 C. Optimis rasanya Lisha akan segera sembuh, namun karena batuknya masih saja ada, terus menerus aku berikan minum yang banyak, sayuran dan jeruk. Pagi hari saat aku bangun, suhu tubuh Lisha sudah mencapai 36.5 C dan Lisha tidur nyenyak sekali malam itu. Akhirnya aku merasa bahwa aku sudah dapat bekerja lagi, namun dengan sekali lagi setumpuk pesan buat pengasuh Lisha dan terus menerus menelpon rumah sampai 9 kali sehari. Weekend kemarin kami ke Lembang dan Lisha sudah sembuh dari batuknya. Sekali lagi satu krisis terlewati, semoga saja anakku terhindar dari abuse obat - obatan yang tidak perlu dan terjaga kesehatannya sepanjang masa. Amin.Lisha_agssep_2006_038

How to avoid making meals a power struggle

August 24th, 2006 by audiyanti


Dsc01164Dsc01172
By the BabyCenter editorial staff

How can I avoid arguing with my child over food every time we sit down to eat?
For many families, sitting down for a meal together often means fighting over food — what’s on the menu, who’s eating (or not eating) what and how much. But who wants that night after night? To avoid mealtime squabbles, try not to talk about food at the table. Merely serve the meal without comment. Of course, if your child is a picky eater, holding your tongue can require a lot of restraint. But your child will benefit in the long run if you don’t harp on his eating habits throughout the meal. "It’s your child’s decision whether or not to eat, what to eat from what is being offered, and how much of it," says Nancy Hudson, a registered dietitian at the University of California at Berkeley.

But what do I do if my child refuses to eat what I serve?
Your mom may have rewarded you for cleaning your plate with a bowl of ice cream after dinner, but that just taught you that veggies were the punishment and dessert was the reward. Instead, try this approach: Serve at least one food you know your kid likes; don’t discuss eating habits; and clear the table when the meal is over — even if your child doesn’t eat all his food. If he wants dessert, give it to him without much fanfare, but vary what you serve — some nights dessert is ice cream, some nights it’s fruit.

How can I tell if my child is eating well enough?
Remember that ultimately, your child is the one in control over what he puts into his body. If you decide for your child when he’s hungry or when he’s had enough to eat, "He won’t learn to recognize when he’s hungry and when he’s done, and you’re setting him up for eating problems later, such as obesity, overeating, or controlling food," says Hudson. "Children are amazingly good at self-regulation. They may eat almost nothing one day, and then the next day they eat a ton of food." But when you look at their consumption over a week or a month’s time, they do a pretty good job of getting what they need from different food groups — as long as you offer them a variety from which to choose. So, pull up a chair, relax, and try to enjoy your meal. If you do, your child will, too.

Feeding problems: Refusing to eat

August 24th, 2006 by audiyanti

By the BabyCenter editorial staff

The problem It’s no coincidence that right around the time your child learns to walk — usually between 9 and 16 months — she becomes much less interested in food. When there’s so much to discover, who has time to eat? (Keep in mind, though, that her growth has slowed and, in spite of how active she may be, her energy needs are less.) What you can do While your child needs some encouragement and structure when it comes to mealtimes (such as regular meals and healthy choices), William Sears, noted pediatrician and author of 23 books on childcare, says whether, when, and how much your child eats should ultimately be up to her. "Your child may eat well one day and eat practically nothing the next," says Dr. Sears, who recently co-authored The Family Nutrition Book (Little Brown, August 1999) with his wife, Martha. Rather than get hung up on the fact that your child has refused everything you put in front of her today, consider her food intake over the course of one week. Parents are often surprised to find that their child’s food intake balances out. Something must be fueling all that energy! Don’t forget to consider fluids in the food equation, too. Milk and juice can offer vital nutrients (though too much juice means too much sugar). But since too much fluid can also dampen an appetite, you may want to serve drinks after and between meals. And try to make sure she’s not filling up on junk food. A daily multivitamin also provides added insurance that your child is getting the vitamins and minerals she needs but is not a substitute for good food. And if your toddler refuses to eat or drink anything for an entire day, call your pediatrician.